ALKALAMU

Sekadar Bilik Persinggahan Kata-Kata

Sarung…Foucault (I)

Pada sebuah malam, pukul setengah satu petang, saya dipaksa rasa lapar untuk ke warung Burjo. Dengan hanya ditemani titipan dari Pak Kelik, motor milik Baiquni, dan sepotong buku karya Foucault, saya meluncur ke sana.

Setelah lapar enyah, segera saya beringsut untuk cuci tangan. Tak disangka tak dinyana, Cecep sang pejaga warung menukas, “sudah sembuh, mas?” Saya sontak kaget. Setelah sekian lama sakit-sehatnya saya tak pernah diperhatikan orang (kecuali orang-orang di rumah), sapaan Cecep tentu mengagetkan. Lha wong rasa-rasanya, penyakit saja sudah ndak mau memperhatikan saya, je!
Saya cerna sebentar maksud celetukan Cecep. O alah, ternyata dia merasa ganjil dengan sarung yang saya kenakan. Saya langsung paham yang dia maksudkan. Hal yang sama seringkali terjadi ketika saya memakai sarung di tempat-tempat di mana orang jarang memakai sarung sebagai sebuah pakaian lazimnya celana biasa. Beberapa hari lalu misalnya, saya disentil seorang penjaga warung-nya bu Siti gara-gara bersarung. Ia, yang memanggil saya dengan nama Galijo itu, bertanya, “kowe sunatan maneh, le?”

Pada orang-orang seperti mereka itu, saya selalu mengiyakan pertanyaan yang disampaikan. Biasanya juga, saya sedapi dengan argumentasi bahwa sarung itu lebih demokratis, praktis, dan isis.

Dari peristiwa-peristiwa semacam itu saya jadi lebih nangkep bahwa busana bukan sekadar penutup aurat. Busana seperti deretan huruf yang mengundang makna bagi mereka yang membacanya. Sarung bagi Cecep dan pembantu Bu Siti langsung dikaitkan dengan khitanan.

Persis di titik ini, saat itu juga, saya mendapat kesegaran baru untuk membaca buku Sejarah Seksualitas karangan Foucault yang kebetulan tengah saya bawa. Jujur, buku ini sulit saya pahami, bahkan sekalipun (atau jangan-jangan karena) sudah diterjemahkan. Kurang lebih Foucault mempersoakan seksualitas sebagai sebuah tema yang selalu coba disingkirkan dalam perbincangan masyarakat modern namun ia selalu saja hadir. Seksualitas adalah kehadiran yang terselubung dan ada di mana-mana. Barangkali, ia tak lagi diungkapkan dalam tutur-menutur yang vulgar tapi terselip dalam hampir seluruh gerak dan hasil karya manusia.

Mengagumkan, Foucault jeli sekali mengomentari bentuk-bentuk arsitektural seperti penjara, asylum, rumah sakit hingga asrama, ruang kelas, dan bentuk meja-kursi anak sekolah dimana seksualitas terselip di situ.
Lebih jauh, Foucault hendak menyingkap hubungan-hubungan kuasa yang sulam-menyulam antara pengetahuan dan seksualitas. Yang menggelitik dan sulit saya lupakan adalah kesejajaran antara hasrat (desire) dan keinginan (will). Seorang peneliti atau ilmuwan yang terobsesi mengungkap kebenaran (“will to know” adalah juga “will to truth”) dan terus menerus bekerja untuk itu, sesungguhnya juga mengalami semacam “kenikmatan”. Berlebihankah jika dikatakan bahwa ketika Archimedes bersorak-teriak “eureka”, ia juga sedang mengalami semacam ejakulasi?

Jika Foucault cerita soal seksualitas dalam latar Eropa abad 17, 18, dan 19, saya ingin mengobrolkan sarung saja dalam kaitannya dengan endapan-endapan kuasa–yang juga sering dikebaskan dari obrolan demi alasan susila.

Sarung pernah menjadi simbol perlawanan diam-diam. Ketika kolonial belanda memperkenalkan aneka khasanah kebudayaannya ke nusantara, celana adalah “artefak” yang ikut serta. Para Kyai, saya lupa siapa saja namanya, sempat mengharamkan celana (jadi, haram itu bukan melulu soal apa saja yang masuk perut via mulut). Celana itu, dalam keteguhan pikir para kyai dulu, punya kafir londo. Dan dengan satu argument hadits, man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum, orang yang meniru-rupa suatu kelompok maka ia menjadi bagian dari kelompok itu, bim salabim, dalam satu gebukan saja, haramlah celana. Dari kisah ini, kita bisa menelan pemahaman betapa busana adalah juga piranti buat menunjukkan daulat dan martabat. Lebih-lebih sarung adalah karya cipta yang asli nusantara, mungkin rumpun melayu lah tanah lahirnya.

Kang Said Aqil Siraj dari Cirebon yang juga doktor, punya tesis menarik mengapa kyai-kyai punya banyak keturunan. Kata Kang Said, sarung adalah salah satu faktor pendorongnya. Sarung adalah juga satu bagian dari paket busana yang dikenalkan walisongo yang keturunan Jawa. Paket busana itu terdiri dari kopyah yang disalin dari bahasa arab khufyah. Artinya, samar. Moralnya, sejenius apapun kemampuan otak seseorang, ia mesti rendah diri, tak pamer-pamer. Di badan ada baju koko, wa libasuhu al taqwa. Nah, untuk teritori pusar ke bawah, seseorang mesti sarungan. Sarungan digubah dari bahasa arab Syar’an. Artinya, hidup musti bersyari’at. Terakhir, telapak kaki pakai bakiak, singkatan dari al baqa’ wal yaqin, yakni mantap mengakar membumi.

Setahu saya juga, hingga setidaknya era Kepresidenan Soekarno, beberapa anggota parlemen dan para politisi biasa memakai sarung sebagai busana resmi. Jika sempat, tiliklah poto-poto dokumentasi dari masa lampau itu…Saya jadi ingat Haji Agoes Salim dan Jahja Datoek Kajo, dua tokoh Volksraad yang ngotot berwicara dengan bahasa Indonesia di Parlemen padahal ia belum lagi menjadi bahasa pergaulan politik…saya kira, sarung yang dikenakan para politisi dan orang parlemen di era Bung Karno, antara lain, juga dalam dorongan semangat yang kurang lebih sepadan dengan kengototan Agoes Salim dan Datok Kajo itu.

Hingga ketika kealpaan sejarah datang, saya tak tahu sejak kapan dan kenapa sarung dilokalisasi dari ruang-ruang umum. Sarung kini seolah hanya dilumrahkan di musala, masjid, pesantren, tempat tidur, dan bagi bocah yang lagi khitanan. Ada semacam keterpaksaan untuk menerima kenyataan seperti itu. Tiba-tiba saja, seperti ada kekuatan yang entah dari mana datangnya, yang memaksa saya untuk memaklumkan ujar tanya Cecep dan Staf warungnya Bu Siti, sekalipun itu tak lebih sekadar anekdot insidental alias “dagelan ndadak”.
Nah, saya termasuk orang yang tak percaya pada universalitas kebendaan. Universalitas nilai-nilai, oke lah. Bagi saya yang ada sekarang ini adalah globalisasi yang punya daya desak luar biasa pada perkara-perkara lokal (Shit, any such term to say?). Penyeragaman tidak otomatis penertiban, tapi justru penggusuran. Betapa, misalnya, merk atau brand sangat memerkosa akal budi dan daulat terhadap diri sendiri?

Saya tak tahu. Yang saya tahu, seperti nasib seksualitas di Eropa yang sejak jaman Victoria dipinggirkan dari perbincangan, sarung juga hanya dibolehkan hidup di garis pinggir. Yang demikian ini membuat saya, tak bisa tidak, terus menerus mengamini Pram, bahwa bangsa ini maunya hanya makan saja, tak mau berproduksi. Sekarang lebih banyak orang yang rakus, ketimbang kreatif. Hanya kenal budaya makan, dan tidak kenal budaya tanam. Maka, ketika produksi dan konsumsi tidak seimbang, lahirlah korupsi.

Lihatlah, Tuan, bukankah kami sudah melakukan korupsi sejak dalam pikiran?

11 February 2009 Posted by usthof | Celoteh Lepas | | 3 Comments

In Memoriam Aloysius Sartono Kartodirdjo

In Memoriam Aloysius Sartono Kartodirdjo

Koran Tempo, 31 Maret 2sartonokartosartono-ii3008


Jumat, 7 Desember 2007. Langit terlihat kelabu. Guru utama itu berpulang ke haribaan Tuhan. Sang guru meninggal dalam damai, sementara para muridnya tak kuasa menahan air mata yang berderai.

Kepergian Sartono Kartodirdjo sangat menyesakkan dada. Di tengah “gejala pikun sejarah” yang mulai merasuk ke segenap sendi kehidupan, sosok Pak Sartono –demikian ia akrab dipanggil –sesungguhnya masih sangat dibutuhkan. Peringatan 100 hari kepergiannya, yang diselenggarakan apda Sabtu, 15 Maret lalu, di University Center UGM, Yogyakarta, cukup mengobati kerinduan keluarga, murid-murid, kolega, dan para pengagumnya. Acara itu terasa istimewa karena dua buku tentang Pak Sartono diluncurkan sekaligus.

Buku pertama bertajuk Membuka Pintu bagi Masa Depan – Biografi Sartono Kartodirdjo. Adalah sejarawan muda M. Nursam yang sejak tujuh tahun lalu telah mempersiapkan materi buku biografi ini, meski proses penulisannya sendiri ia kebut dalam setengah bulan. Sementara buku kedua berjudul Sejarah yang Memihak – Mengenang Sartono Kartodirdjo. Buku ini merupakan bunga rampai artikel yang ditulis oleh keluarga dan mereka yang mengenal Pak Sartono secara dekat. Dari kedua buku itu para pembaca akan mampu membuat konstruksi imajiner siapa itu Sartono Kartodirdjo

Tiga Titik Kisar

Perjalanan hidup Pak Sartono tergolong kompleks sebab ia mengalami masa kolonial Belanda hingga era reformasi. Dilahirkan pada 15 Februari

1921 di Wonogiri, Sartono kecil datang dari latar belakang masyarakat Jawa.

Alam bawah sadarnya dibentuk oleh cerita-cerita pewayangan. Pendidikan awal nonformal ini mengantarkan Sartono kecil untuk mengenali sosok-sosok manusia ideal dalam pandangan masyarakat Jawa.

Pada 1927 ia bersekolah di MULO dan kemudian hijrah ke HIK Muntilan (1936), sekolah calon bruder. Inilah titik kisar pertama riwayat hidup Sartono, perpindahan dari “antroposentrisme” ke “teosentrisme”. Dari HIK-lah kepekaan batinnya diasah; semacam ketajaman instingtif yang kelak menuntunnya menjadi ilmuwan yang asketis.

Kisaran kedua berlangsung kala ia kembali bergeser dari dunia kerohaniawanan ke lingkungan kehidupan biasa. Terjadi pergulatan iman dalam diri Sartono muda ketika kondisi sosial-ekonomi keluarganya saat itu membuatnya harus memilih profesi guru dan tidak melanjutkan menjadi bruder.

Sejak 1941 hingga akhir hayatnya, profesinya cuma satu: guru. Agaknya, menjadi guru adalah jalan hidup pengabdian yang harus ia tempuh. Pengalaman mengajarnya komplet, mulai mengajar anak TK menyayi hingga menjadi dosen S3 yang menguji disertasi.

Kisaran ketiga bermula kala ia melanjutkan studi di Yale, Amerika Serikat, dan Amsterdam, Belanda. Disertasi doktoralnya tentang “Pemberontakan Petani Banten 1888″ adalah karya historiografi modern pertama yang ditulis orang pribumi. Karya ini membuka jalan baru tradisi penulisan sejarah di Indonesia, yang sebelumnya pekat dengan aroma neerlandosentris. Ia secara kukuh memperjuangkan “dekolonisasi sejarah” agar corak indonesiasentrisme tampil ke muka.

Ia juga sadar betul bahwa penulisan sejarah tak hanya bergerak pada tataran makro, namun juga meso dan mikro. Karenanya, aktor dalam sejarah tak cuma golongan atas, tapi semua golongan. Entah elite dan non-elite atau aristokrat dan petani, semuanya berperan menjadi pelaku sejarah.

Sekembalinya dari luar negeri, Sartono bertekad memulai kerja besar membangun tradisi kritis dalam ilmu sejarah di Indonesia. Mula-mula ia memperbaiki kurikulum Jurusan Sejarah UGM. Sebagai dosen, ia adalah penghulu sejarawan-sejarawan negeri ini. Hampir seluruh pakar sejarah terkemuka Indonesia yang masih hidup hingga kini adalah muridnya.

Pada akhir 1950-an sampai 1960-an, Sartono memakai istilah pendekatan multidimensional untuk merekonstruksi sejarah. Karena sebuah peristiwa memiliki banyak dimensi, pengetahuan tentang struktur di mana peristiwa muncul menjadi penting. Sejarawan baru bisa memahami kondidi struktural jika ia bersentuhan dengan ilmu sosial lain. Pendekatan multidimensional kemudian ia sempurnakan dalam istilah “interdisipliner” saat ia menjabat Kepala Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan (P3KP, 1973-1982). Waktu itu, ia begitu mengidamkan runtuhnya tembok-tembok yang menjadi sekat antarfakultas di UGM.

Asketisme Intelektual

Tak ada yang membantah intelektualitas Sartono. Dunia internasional pun mengakuinya sebagai sejarawan kelas wahid. Pada 1977 ia menjadi orang yang pertama kali menerima Benda Prize. Inilah anugerah yang dinisbatkan pada sejarawan H.J. Benda, yang juga pernah membimbing Sartono saat studi di Amsterdam. Sembilan belas tahun kemudian, 17 juni 1996, Universitas Humboldt, Jerman, merasa perlu untuk menyematkan gelar Doctor Honoris Causa untuk Sartono atas sumbangsihnya pada disiplin ilmu sejarah.

Pertanyaannya, kemudian, apa yang membuat Sartono bisa sedemikian hebat?

Mereka yang mengenal dekat Pak Sartono akan menjawab dengan suara

koor: asketisme intelektual. Dalam Sejarah yang Memihak – Mengenang Sartono Kartodirdjo, suara itu terdengar jelas. Ada P. Swantoro, Syafi’i Ma’arif, Anhar Gonggong, J. Sumardianta, Jakob Oetama, St. Sularto, hingga J.J. Rizal yang menekankan dimensi istimewa Pak Sartono ini.

Istilah “asketisme intelektual” dekat dengan kata “mesu budi” dalam Wedhatama karya Mangkunegara IV. Jika budi secara tepat bisa diartikan sebagai mind, maka “mesu budi” bisa diartikan sebagai asketisme intelektual yang mencakup disiplin spiritual, suatu latihan kemampuan kognitif dalam segala aspeknya: logis, kritis, analitis, maupun diskursif. Menurut Sartono sendiri, seseorang yang menjalani asketisme ialah orang yang melakukan latihan olah jiwa untuk menahan diri dari hawa nafsu jasmaniah.

Asketisme intelektual itulah yang membuatnya sekukuh batu karang dan setulus cahaya rembulan. Berbagai kesulitan yang menerpanya sejak belia ia jalani dengan etos kerja keras, kreativitas, kejujuran, dan disiplin tinggi. Dalam bahasa Fischer, asketisme intelektual pada diri Sartono adalah gabungan dari sosok Arjuna (kehalusan siap), Gatotkaca (kejujuran), dan Semar (kearifan) sekaligus.

Pokok soal asketisme intelektual adalah keinsafan batin yang menghunjam di dalam kesadaran Sartono sebagai ilmuwan sejati. Ia tak mudah larut dalam keheningan, juga tak terseret gegap-gempita. Saat era reformasi, misalnya, berbeda dengan kebanyakan cendekiawan yang terkena demam euforia reformasi, sehingga cenderung asal dalam berpendapat, Sartono selalu berargumentasi dengan tingkat kesantunan dan kesopanan tinggi, yang menjunjung tinggi etika akademik. Suatu sikap yang mengejawantah terus-menerus dalam seluruh pengabdian ilmiahnya.

Kini ia telah pergi. Kepergiannya, barangkali, justru menyediakan konteks kehangatan baru bagi kontekstualisasi ide-ide cemerlangnya yang, karena laju waktu, menjadi dingin. Pada generasi penerus, Sartono berpesan agar mampu menghadapi tantangan masa depan dengan menengok ke belakang sesuai dengan semboyan bahwa melupakan sejarah (berarti) menutup pintu bagi masa depan.[ofa]

Judul buku : Membuka Pintu bagi Masa Depan – Biografi Sartono Kartodirdjo
Penulis: M. Nursam
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan: 1, Maret, 2008
Tebal: xviii + 382 halaman
Judul buku: Sejarah yang Memihak – Mengenang Sartono Kartodirdjo
Penulis: M. Nursam, Baskara T. Wardaya, Asvi Warman Adam (Editor)
Penerbit: Ombak, Yogyakarta
Cetakan: 1, Maret, 2008
Tebal: xvii + 507 halaman

30 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Buku | | No Comments Yet

TURANGGA Titihan Sekaring Bawana

TURANGGA Titihan Sekaring Bawana

Koran Tempo, Edisi 28 January 2009katuranggan

Konon, Heraklius pernah gusar gara-gara tentara perangnya kalah tanding dengan tentara Arab-Muslim. Ditanyalah sang panglima ihwal sebab-musababnya. Kata panglima, tentara arab sangat sulit ditaklukkan karena mereka adalah Fursan fi al nahr wa al ruhban fi al layl, penunggang kuda di kala siang dan rahib dalam gelap malam.

Dalam ungkapan itu, jika kata rahib adalah lambang asketisme seorang pejuang, maka kuda adalah simbol keperkasaan, keberanian, dan kegagahannya. Itu metafor di Arab sana, di Magelang juga ada. Jika sekali waktu melintasi atau mengunjungi kota ini, mampirlah ke alun-alun kota. Di salah satu sudutnya, berdiri tegak patung Pangeran Dipanegara tengah menunggang kuda. Di bawahnya ada tulisan tertera, “turangga titihan sekaring bawana.” Makna letter lijk-nya, “Kuda tunggangan adalah kembang dunia.” Mungkin kita heran, kenapa kuda mesti disebut sedemikian gagahnya?

Saya pun heran dengan Sindhunata. Ia biasanya sangat produktif menulis apa saja tentang manusia. Perspektif filsafatnya saat menulis ihwal kemanusiaan sangat lah kaya. Tapi kali ini ia menulis dunia kuda. Jika dalam pendekatan etnografis, seorang peneliti suku Samin niscaya ikut berproses menjadi seorang Samin juga, maka untuk mengalami dunia turangga, Sindhunata sekali ini menjelma sebagai seekor kuda yang bercerita tentang nasib kaumnya.

Yang tampil kemudian adalah “aku” yang kuda. Kita barangkali segera ingat Chairil Anwar: aku ini binatang jalang/dari kumpulannya terbuang. Dalam naskah filmnya, Sumandjaya menafsir-visualkan “aku” dalam rupa kuda berbulu putih dengan rambut kuduk yang tergerai. Di pusat kota Jakarta, sang kuda tak peduli pada apapun di sekelilingnya, juga manusia. Ia meringkik keras, menapak, dan menyepak. Alangkah merdeka.

Beda dengan Chairil yang ditafsirkan Sumandjaya itu, Sindhunata menjadi “aku-kuda” yang perenung. Aku yang ditakdirkan sebagai penarik beban. Aku yang tak bisa mengelak dari cemeti. Aku yang ikut mengiringi dan menjadi saksi lompatan-lompatan peradaban. Aku yang kemudian gugur di pejagalan dan, akhirnya, mesti rela dilupakan.

Sebagai bagian dari kehidupan, kuda sesungguhnya ikut ambil bagian. Kaum kuda memang tak butuh diakui, karena mereka bukan manusia yang haus pengakuan. Toh, sejarah peradaban yang manapun tak bisa lepas dari hasrat bergerak, berpindah-pindah tempat dalam waktu relatif singkat dan tenaga yang dihemat. Kuda menjadi karib manusia untuk memenuhi hasrat itu. Kuda lalu menjadi simbol kegagahan dan kekuatan, namun ia sejatinya selalu dituntut untuk melakukan banyak hal buat manusia, tanpa sejenak pun kuda bisa menuntut sebaliknya.

Bagi kehidupan serba mesin seperti sekarang, mengungkit-ungkit kuda dan tetek bengek-nya boleh jadi dinilai “kurang kerjaan”. Toh, kuda tak lagi bisa memuasi hasrat mobilitas manusia masa kini. Di beberapa daerah, dokar memang masih tersisa sekalipun kehadirannya di jalan raya lebih menegaskan suatu persaingan timpang antara “yang tradisional” dan “yang modern”. Persis pada titik ini, manusia mengalami problem eksistensialnya. Ia mengada bukan lagi sebagai sebuah titik yang tersambung dengan garis panjang kesadaran ruang dan waktu. Kemacetan, misalnya, dalam satu momen menjadi sesuatu yang diratapi lantaran mengingkari fitrah mobilitas itu sendiri. Namun pada momen berikutnya, kemacetan menjadi perayaan bagi seseorang yang tengah menikmati daulat kesendirian dalam mobilnya. Manusia satu dengan yang lain terkotak-kotak dalam sekian banyak “aku” yang atomis.

Nah, buku ini ingin menyuarakan “aku” yang lain, “aku-kuda” yang menggugah kebinatangan dalam kemanusiaan sekaligus kemanusiaan dalam kebinatangan. “Aku” menyampaikannya melalui bahasa ringkikan.

Buku ini sesungguhnya sangat bersahaja. Suara-suara yang dapat didengar dari sana adalah orkestrasi “ringkikan” dalam bentuk verbal dan visual. Beberapa potongan kisah dari negeri manca disertakan, namun tak berambisi menampung segala kisah kuda dari segala bangsa-segala masa. Untuk mengawalinya, “aku” dengan fasih menceritakan nasibnya sendiri yang malang. “Aku” lalu belajar menerima kehidupan. Sebagai kuda, “aku” bergulat antara masa lalu yang sarat beban, brutalnya kekinian dan ancaman dari masa yang hendak datang.

Kemudian meluncurlah berupa-rupa kisah: kuda dalam lukisan gua-gua purba, kuda dalam seni belanga dan dinding kuil atau istana, kuda Bucephallus milik Iskandar Agung, kuda Zenggi tunggangan penyair Garcia Lorca, patung kuda Troya dari Yunani, kuda tumbal untuk Dewa Agni di India, kuda padang pasir dalam epos perang Badar, kuda pasukan Kaisar Tai Tsung di Mongolia, hingga Gagak Rimang milik Arya Penangsang dan kuda-kuda kutukan jelmaan bidadari dari dunia pewayangan.

Ihwal Katuranggan
Apa yang ingin diringkikkan dalam buku ini bermuara pada ilmu katuranggan. Ilmu ini mempelajari segala hal ihwal dunia kuda: mulai pembagian kuda berdasarkan penampakan fisik, tata cara memilih dan merawat kuda nan rinci, hingga teknik-teknik pengobatan. Tak jelas betul, siapa yang merumuskan Katuranggan mula-mula. Seperti juga pranata mangsa (farming almanac), katuranggan diwariskan serta dikembangkan dari generasi ke generasi dan dibiarkan tak bertuan. Dalam perkembangannya, ilmu ini malah mencakup jenis hewan lain seperti Merpati dan Perkutut, bahkan meluas hingga dunia seksualitas.

Katuranggan bukanlah ilmu gaib atau mistis. Ilmu ini dibangun melalui pengamatan yang ketat dan pada gilirannya melahirkan kaidah-kaidah tertentu. Kegiatan ilmiah semacam ini tak jauh beda prinsipnya dengan observasi empiris dalam tradisi positivisme Barat. Observasi empiris memang berguna sejauh manusia berhasil menangkap dan memahami “gelagat kesemestaan” dengan menyediakan jarak terpisah dari obyek yang diteliti. Namun, katuranggan tak berhenti di situ. Ada semacam peleburan subyek dan obyek dalam kesatuan utuh yang saling memahami dan mengandaikan. Katuranggan, dengan demikian, merupakan salah satu khazanah Jawa yang melihat alam dalam dimensi kosmologisnya. Manusia dilihat sebagai bagian, dan bukan pusat, dari keseluruhan tata kosmos yang berjalan secara alamiah dan seimbang. Ilmu membimbing manusia, tumbuhan, binatang dan sekian makhluk lainnya dimanunggalkan dalam kesatuan gerak hidup.

Inilah yang kemudian diceritakan oleh “aku” perihal Mbah Koni, seorang dukun kuda di Yogyakarta. Kepadanya, segala macam problem tentang kuda dicarikan jalan keluarnya: mulai kuda yang salah urat, masuk angin, stress, hingga obat jamu mujarab. Di kalangan kusir dokar, ia adalah sosok yang sangat dihormati, bukan saja karena keahliannya namun juga sikap rendah hatinya. Mbah Koni tahu persis dunia kuda sampai-sampai…“Aku tak bisa bicara kepadanya. Tapi dengan cepat ia tahu sakitku”.

Yang menarik dari Mbah Koni adalah letak titik lebur atau kemanunggalan antara dirinya dengan kuda. Katanya, manusia itu jumbleng (septic tank) berjalan, kotor, ke mana-mana membawa kotoran. Kudapun begitu. Bedanya tipis, kalau manusia mesti ngumpet, kuda bisa buang kotoran di mana suka. Maka, yang membedakan manusia dari kuda adalah benang halus etika. Pada titik semacam inilah kita sesungguhnya sulit menolak bahwa ternyata ada kebinatangan dalam kemanusiaan dan ada kemanusiaan dalam kebinatangan.

Dan saya kira, lewat buku ini, Romo Sindhu sudah cukup berhasil menjadi kuda, menampilkan sisi lain dari kemanusiaan yang diendapkan secara sengaja. Ia berhasil meringkik, sekalipun dalam bahasa Indonesia. Tinggal para pembaca saja, apatah masih membaca dengan “kaca mata kuda”? [ofa]

Judul buku: TJAP DJARAN: KATOERANGGAN

Penulis: Sindhunata

Penerbit: Bentara Budaya,Yogyakarta

Cetakan: I, 2008

Halaman: 244 halaman

30 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Buku | | No Comments Yet

Celoteh tentang Zaman yang Berubah

Celoteh tentang Zaman yang Berubahcelotehzaman2

Koran Tempo,   Edisi 31 Desember 2007

Tanpa terasa, lembaran tahun 2007 berakhir sudah. Seperti biasa, banyak orang merasa perlu menyambut tahun baru dengan perayaan yang meriah: pesta kembang api yang menerangi langit malam, pekik terompet di sepanjang jalan atau menggelar pesta semalam suntuk.

Tapi, Pak Naladjaja, dari salah satu pojok sejarah yang kini tak banyak dijamah, memilih cara yang berbeda. Baginya, waktu akan terus bergerak. Meluncur dari satu periode ke periode selanjutnya. Bukankah kalender yang memuat 365 hari itu hanya sekumpulan angka-angka yang jadi penanda? Tanggal menjadi bermakna karena ia menjadi wadah dan diisi serangkaian peristiwa. Sebab manusia punya nalar dan rasa, maka peristiwa menjadi mubazir jika dibiarkan teronggok jadi fosil masa lalu belaka. Pak Nala, begitu nama singkatnya, lantas mengajak kita untuk merenung bersama.

Pak Nala memang bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang guru SD swasta. Ia senang sekali mengamati banyak perkara, dari yang remeh-temeh seperti wedang ronde atau lumpia, hingga yang muluk-muluk semisal bom atom atau emansipasi wanita. Ia juga gemar sekali membincangkan segala peristiwa pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Ia pun merasa beruntung menjadi rakyat biasa, sebab dengan begitu ia bisa bebas memaknai pernak-pernik hidup dengan kejernihan sebebas-bebasnya.

Buku berjudul Rerasan Owah Gingsiring zaman (Celoteh Perubahan-Pergeseran Zaman) ini berisi 135 esai pendek karya almarhum Profesor Driyarkara dalam bahasa Jawa yang pernah dipublikasikan Praba. Meski hanya membicarakan peristiwa-peristiwa sepanjang tahun 1925 hingga 1956, karya ini masih segar untuk dibaca. Tema-temanya–mulai politik, agama, pendidikan, ekonomi, nasionalisme, korupsi, kebudayaan hingga kehidupan sosial–yang diangkat dalam karya ini masih sangat relevan dengan perkembangan aktual di negeri ini. Justru di situlah kemampuan Driyarkara dalam membaca gerak zaman. Daya jelajah intelektualitasnya sangat futuristik, mampu menembus sekat-sekat waktu.

Driyarkara sengaja menghadirkan tokoh imajiner bernama Pak Nala. Ia menjadi sosok yang menunjukkan kebajikan berfilsafat dari dan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Jika pokok soal filsafat adalah bagaimana menjadi arif dan bijaksana, maka siapa pun, asal punya niat, sesungguhnya bisa berfilsafat. Pak Nala adalah prototipe jenisu lokal yang merepresentasikan kearifan lokal khas wong cilik. Ia mampu merumuskan pertanyaan-pertanyaan mendasar dengan penalaran yang jernih dan bening.

Dibalut dengan narasi cerita yang mengalir, esai-esai Driyarkara menyajikan susasana yang gayeng (cair) tanpa kehilangan akurasi analisa. Misalnya, saat Pak Nala penasaran mengapa Si Pendjol yang bodoh bukan main bisa naik kelas. Usut punya usut, Pak Truna, sang bapak, ternyata memindahkannya ke sekolah lain. Pendjol naik kelas sebab bapaknya bisa menyumbang banyak uang ke sekolah yang baru itu. Pak Nala lantas merenung, inikah yang dimaksud Indonesia maju itu? Apa jadinya negara ini jika dikendalikan lulusan-lulusan dari sekolah seperti itu? Sekolah kok jadi lahan industri.

Masih soal dunia pendidikan. Pak Nala merasa heran dengan para sarjana yang mendem ngelmu (mabuk dengan ilmu) sehingga tak mampu menyelesaikan problem-problem nyata di masyarakat. Bahkan Pak Nala merasa kasihan dengan banyak orang yang mendewa-dewakan ijazah. Celakanya, para pembesar di negeri ini tak luput dari jenis manusia seperti itu. Ijazah sarjana dianggap mencukupi segala kebutuhan dan bisa menjawab semua persoalan.

Dalam potongan kisah yang lain, Pak Nala menemukan buku-buku miliknya digerogoti rayap. Semula ia jengkel, sejenak kemudian menjadi lega. Ia merasa beruntung karena yang dijumpainya hanya rayap biasa. Bukan rayap modern yang bisa naik mobil mewah segala. Bukan rayap modern yang menggerogoti jenis kertas bergambar Bung Karno saja.

Yang menggelikan, Pak Nala pernah penasaran dengan aktivitas gunung-gunung berapi yang tiba-tiba meningkat cepat. Usut punya usut, ternyata alam mengalah pada manusia. Biarlah para petinggi, pejabat, politisi, atau pegawai saja yang malas-malasan bekerja, namun alam tetap harus bekerja keras sesuai kodratnya. Lho, kok?

Kisah-kisah serupa mewarnai riuh-rendah sindiran parikena dalam buku ini. Driyarkara menunjukkan kepiawaiannya mengemas peristiwa-peristiwa secara kronik dalam uraian yang singkat, padat namun terasa begitu longgar. Tiap detail kemudian muncul sebagai letupan-letupan peristiwa yang tak terduga, menggelikan, mengherankan, membingungkan, dan kadang menohok.

Di atas itu semua, Pak Nala sadar bahwa laju perubahan zaman yang begitu cepat memaksanya untuk mengikuti perkembangan secara terus menerus meski keponthal-ponthal (tertatih-tatih). Lelaki sederhana itu berupaya untuk memahami tiap pergeseran secara arif. Ia melintasi hari sebagi penyimak yang baik, pengamat yang peka, penafsir yang jeli, dan pengkritik yang efektif. Ketika buntu, dengan rendah hati Pak Nala akan berceletuk “Piye ya? (bagaimana, ya?)” atau “Mboh ya! (tau, ah!)”

Franz Magnis-Suseno dalam Etika Jawa (cetakan VI, 1996) menyebutkan nilai sosial tertinggi dari kebudayaan Jawa adalah kerukunan (guyub). Kerukunan itu merupakan unsur utama dalam pandangan hidup yang yang memandang realitas kehidupan sebagai kesatuan utuh, keseluruhan dan keterikatan satu sama lain. Setiap tindakan individu kemudian harus disesuaikan dengan tuntutan-tuntutan yang membawa pada kerukunan tersebut.

Seirama dengan penjelasan di atas, keutuhan esai-esai dalam buku ini terletak pada keterikatan satu tulisan dengan tulisan berikutnya. Meski tema yang muncul sangat beragam, Driyarkara konsisten menghembuskan spirit reflektif dalam tiap tulisan. Spirit itu mengalirkan energi untuk menyumbang bentuk keselarasan hidup macam apa yang seharusnya dijalani bersama.

Gaya ungkapnya yang terbatas pada medan semantik Jawa mungkin membatasi segmentasi pembaca, namun renungan-renungan kritis yang terkandung di dalamnya adalah substansi kebijaksanaan hidup yang universal.

Zaman boleh berubah dan memang demikianlah fitrahnya. Waktu akan terus bergerak maju dalam garis linear, menurut Comte. Adapun penganut Hegel akan memandangnya dalam pola spiral dengan kemungkinan peristiwa yang sama akan terus terulang-ulang.

Yang jelas, waktu memang unik sebab manusia tak mampu lepas darinya. Pembahasan mengenai konsep waktu juga telah menguras energi para filsuf dan ilmuwan sepanjang masa. Nah, kehadiran Pak Naladjaja kali ini sangat membantu kita yang awam untuk ikut mengendalikan dimensi waktu agar menjadi wadah yang bermakna. Dunia membutuhkan orang-orang bijak, bukan orang-orang yang mengerti teori filsafat atau ilmu pengetahuan saja.

Jika demikian, bagaimana seharusnya kita menyambut kehadiran tahun 2008? “Mboh ya!” kata Driyarkara, eh, Pak Nala.[ofa]

Judul : Rerasan Owah Gingsiring Jaman
Penulis : Prof. DR. N. Driyarkara, S.J.
Penerbit : Penerbit Universitas Sanata Dharma dan Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : XV + 174

30 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Buku | | No Comments Yet

Buku Pelajaran yang Menyebalkan

Melongok ke perpustakaan yang jumlahnya tak begitu banyak di negeri ini, seseorang akan disuguhi kenyataan bahwa keheningan dan sepi tidak dimonopoli oleh pekuburan saja. Kontras jika dibandingkan dengan betapa semaraknya jasa rental game online atau Play Station yang tersebar hingga ke pelosok desa. Ini adalah tragedi.

Secara kasar fenomena tersebut bisa disimpulkan sebagai potret kebangkrutan nilai-nilai pengetahuan dan intelektualitas. Gairah menjelajah cakrawala pengetahuan dengan menguras isi perpustakaan menjadi barang langka. Mengapa gairah itu kian hari kian terkikis, atau paling tidak, dikalahkan budaya hura-hura (hedonisme)? Apakah generasi sekarang sudah sedemikian jauhnya dengan budaya beraksara? Apa yang menyebabkan buku tidak menjadi bagian penting dari kehidupan kita?

Dalam kongres ke-7 IPPI di Istora Senayan, Bung Karno bercerita panjang tentang masa belianya—masa dimana ia mulai menemukan cita-citanya. Sukarno belia sudah berkenalan dengan Marx, Engels, Mazzini, G Washington, Jefferson, Gladstone, Sidney Webb, Liebbnecht, hingga nama-nama seperti Mahatma Gandhi, Taigo Sakamori, Mustafa Kamil dan Sun Yat Sen. Perkenalan dengan mereka ini menanamkan kesadaran imajiner bahwa sebagai generasi muda, ia harus tahu cita-cita besar macam apa yang harus diperjuangkannya. Di mana Sukarno menemui mereka? Perpustakaan. Sukarno rakus membaca. Sukarno belia adalah tipe predator buku yang menguras habis isi perpustakaan. Tapi anehnya, Sukarno tak menyebutkan sekolah formal sebagai pemicu gairah membacanya itu. Sejauh apa relasi antara “sekolah formal” dan “gairah membaca”?

Sejak kecil generasi kita sebenarnya sudah diperkenalkan dengan buku. Sejak sekolah dasar atau bahkan TK, seorang anak sudah mulai diajari bagaimana membaca rangkaian huruf menjadi kata, kata menyusun kalimat, kalimat menjelma paragraf dan seterusnya. Sepintas memang tak ada masalah, tapi seorang anak jarang mendapatkan bimbingan kejiwaan bahwa membaca adalah proses menuju pencerahan, adalah bentang samudera tak bertepi, adalah kesadaran berperadaban.

Sedari dini hanya ditanamkan sikap yang kerdil, semakin cepat bisa mengeja, membaca lantas membunyikannya di mulut, semakin anak itu dianggap pintar. Di tingkat dasar dan lanjutan, generasi kita didorong untuk membeli buku-buku pelajaran baru, diktat-diktat baru atau Lembar Kerja Siswa (LKS) yang baru pula. Saat di SD dulu, saya giat menghapalkan diktum-diktum yang sering disusun secara numerik itu agar kala ulangan meraih nilai delapan atau sembilan. Saya bahkan beranggapan semakin cerdas seseorang, maka semakin banyaklah yang bisa ia hapal. Dan saya berambisi menjadi anak cerdas dalam definisi seperti itu. Menghapal, menghapal dan menghapal. Akhirnya, mulailah saya kedodoran. Anehnya, kala itu seperti ada suara di alam bawah sadar bahwa yang dianggap buku hanyalah diktat-diktat di sekolahan itu. Tiap kali usai membaca novel, komik, majalah, atau tabloid anak-anak, saya seakan-akan merasa tidak sedang membaca meski mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Kalaupun itu disebut membaca, maka hukumnya sunnah dan tidak wajib, sehingga ada “bacaan kelas satu” dan “bacaan kelas dua”. Jarang sekali, atau bahkan tidak pernah, di sekolah para murid dirangsang untuk membaca apa saja. Aksiomanya, belajarlah biar pintar. Dan yang dimaksud dengan belajar tentu saja adalah menghapal materi yang sudah ditentukan guru. Lama-kelamaan saya bosan dan jengah. Betapa sekolah hanya menghargai mereka yang cepat dalam hapalan dan kuat dalam ingatan. Kreativitas bernalar dipinggirkan. Buku-buku mainstream di sekolah menjadi kanonik alias serupa kitab yang (di)suci(kan). Begitulah, “pola pembacaan buku” di sekolah-sekolah kita mulai tingkat dasar hingga tingkat lanjutan. Buku pelajaran selalu jadi sumber yang harus dihapal baris per barisnya.

Menghapal jelas bukan tantangan karena itu hanya sebentuk upaya untuk merekam atau semacam copy-paste yang menguras energi tapi tak menghargai kerja akal. Sekolah kemudian menjadi serupa pabrik instalasi robot-robot penghapal. Aspek kognitif yang terlalu dikedepankan akhirnya menggiring budaya membaca ke belakang. Paradoks dan ironis. Jika kemudian bangsa kita tak punya kultur membaca yang kuat, sama artinya—atau kita layak curiga—sekolah-sekolah di negeri ini tak cukup mampu membangun kultur itu dan, jangan-jangan, malah merubuhkannya sebelum berdiri. Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, buku pelajaran dari dulu hingga sekarang, meski kurikulum terus berganti episode, jarang menyentuh aspek kesadaran. Siswa tak cukup sadar bahwa membaca adalah kebutuhan. Kedua, banyak buku pelajaran dikemas dalam format yang asal jadi, gaya bahasa seadanya dan materi yang tidak memadai. Ketiga, metode yang dipakai untuk membaca buku pelajaran adalah menghafal, bukan memahami. Sehingga wajar jika, buku-buku lain di luar pelajaran dipinggirkan. Selain itu, sering sekali terjadi Guru justru bertindak sebagai agen buku, dengan sejumlah kompensasi dari penerbit jika ia bisa menjual dalam eksemplar tertentu.

Kita patut iri dengan negara dengan kultur membaca yang sangat mengakar seperti Amerika. Di tempat-tempat publik semisal bandara, stasiun, rumah sakit atau di kendaraan umum sekalipun, banyak orang merasa penting untuk membaca. Menjadi masuk akal, jika di sana masyarakat sangat menghargai perpustakaan. Dan ketika fenomena ini ditelisik, didapati kenyataan bahwa sekolah termasuk mata rantai paling penting untuk menumbuhkan kesadaran itu. Dalam budaya literasi barat, hampir-hampir mustahil jika seorang siswa bersekolah tanpa bisa mengapresiasi kegiatan membaca sebagai sesuatu yang penting. Sekolah mendorong para siswa untuk memahami bahwa membaca adalah aktivitas yang penuh nilai, memperluas pengetahuan dan memampukan mereka untuk menjadi orang berguna serta produktif bagi masyarakat. Sekolah memacu mereka untuk menjadi pembaca yang melek dan mampu menjelajah berbagai jenis bacaan untuk tujuan yang beragam (Encarta Encyclopedia 2003) Di negara maju, buku pelajaran menunjang siswa untuk menyuburkan kegemaran membaca apa saja sesuai dengan minat dan disiplin ilmu masing-masing. Ini adalah sebentuk kesadaran manusia berperadaban. Sayang sekali, di negeri ini, buku pelajaran jstru punya kontribusi penting dalam pengebirian kultur membaca.

Dengan demikian, setidaknya kita mulai mengembangkan kesadaran baru bahwa buku pelajaran hanya sebagian kecil saja dari sekian luas semesta pustaka yang ada. Sangat perlu kiranya, kurikulum pendidikan diorientasikan pada kebudayaan membaca dalam pengertian yang luas. Pada gilirannya, sekolah bisa merangsang siswa untuk melek dan sadar, sehingga kebutuhan membaca sama harganya dengan keniscayaan bernafas. Dengan begitu, generasi kita akan mampu membentuk cita-cita yang tinggi, menjadi manusia berpengetahuan, menjadi bangsa berperadaban. Namun entah jika sebagian dari kita justru merasa nyaman menjadi manusia purba.

28 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Lepas | | No Comments Yet

Onghokham tanpa Spasi

Sampul

Sampul

Onghokham Tanpa Spasi

Koran Tempo, 25 Februari 2008

Ia punya sederet predikat: sejarawan, kolomnis, intelektual, koki, penggila pesta, penggemar barang antik, hingga eksentrik.

Dari sedikit sejarawan berkualitas yang dimiliki bangsa ini, Onghokham adalah salah satunya. Sejak muda, ia dianggap salah satu pintu gerbang bagi sarjana-sarjana asing yang ingin mengenal sejarah Indonesia dari dekat. Ketika kemudian gelar doktor dari Universitas Yale diraihnya, kredibilitas Ong sebagai sejarawan kian kukuh. Hanya saja, seberapa pun dalam wawasan historisnya, teman-teman terdekat Ong akan segera menolak definisi Onghokham sebagai ahli sejarah semata-mata.

Ya, meski Onghokham sendiri berseru “Saya seorang sejarawan” ketika memulai buku Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong, predikat apa pun tak bisa mewakili Ong yang utuh, karena Ong tak dibatasi kapling kategoris. Ia memang punya sederet predikat: sejarawan, kolomnis, intelektual, koki, penggila pesta, penggemar barang antik, hingga eksentrik. Tak ada satu istilah paling absolut untuk merujuk pengertian tentang siapa Onghokham seutuhnya. Onghokham adalah Onghokham. Titik.

Begitulah yang terungkap dalam buku testimonial ini, Onze Ong, Onghokham dalam Kenangan. Diniati untuk mengenang 100 hari kepergiannya ke alam baka, buku ini adalah album tempat berbagai kolase kenangan ditempelkan. Sahabat-sahabat Ong menuliskan kesan-kesan pribadi secara beramai-ramai. Ada Ben Anderson yang tak bisa lupa tahun-tahun awalnya di Indonesia bersama Ong muda, Barbara Hartley saat belajar bersama di Yale, Anthony Reid yang dibukakan matanya perihal lanskap budaya petani Jawa, David Reeve yang terkesan dengan kompleksitas budaya Jawa dalam pemikiran Ong, Mary Heidhues yang terkenang dengan Ong era 1960-an, hingga Sidney Jones yang terpesona dengan keramahan ala Ong.

Belum lagi tulisan-tulisan koleganya dari dalam negeri, dari Adrian Lapian, Asvi Warman Adam, Christianto Wibisono, Dede Utomo, Goenawan Mohamad hingga Taufik Abdullah. Semuanya mendedah kembali memori masa lalu yang begitu personal dan intim.

Ong yang mereka kenal melampaui diskusi-diskusi akademik atau berbagai karya tulis ilmiah. Jarang dari mereka yang mengulas karier dan pemikiran intelektual Ong dengan rumit. Wajar memang, kala seseorang yang dicintai pergi jauh, sahabat-sahabatnya ingin mendekat kembali. Ong begitu dekat, hingga tiap kata yang ditulis dalam buku ini seolah tak muat menggambarkan keintiman itu.

Begitu dekatnya, buku ini mengantarkan pembaca untuk mengenal sisi hidup Ong dalam dimensi yang hampir tanpa jarak. Tak ada yang tabu membahas kehidupan Onghokham. Nilai-nilai kepatutan yang jamak berlaku di masyarakat tak berlaku untuk Ong. Para kontributor tak segan membicarakan kisah-kisah yang aneh, sinting, nekat, menggelikan, hingga yang menggugah, inspiratif atau mencerahkan. Bagaimana pun, Ong yang utuh adalah penjumlahan dari seluruh apa yang ia pikirkan dan lakukan.

Dosen Universitas Indonesia Kasijanto Sastrodinomo, misalnya, dalam tulisan “Sisi ‘Error’ Pak Ong”, menggambarkan Ong sebagai sosok yang nyeleneh. Tak mau kawin, tak berhasrat dengan gelar gelar guru besar (sebab malas berhadapan dengan birokrasi), menenteng ikan segar ke dalam kelas kuliah atau sering tidak meluluskan mahasiswa adalah sebagian keanehan yang oleh Kasijanto dianggap sisi error. Ong tak segan melabrak kepantasan umum demi sesuatu yang diyakininya benar. Di sinilah, menurut Kasijanto, Ong menjadi sosok pembelajar yang otentik, yang tak melulu tunduk pada paksaan nilai.

Para mahasiswa yang pernah diajar Ong tentu tahu betul betapa eksentriknya gaya mengajar dosen yang satu ini. Ia paling tidak teratur menyusun silabus, materi kuliahnya melompat-lompat, soal ujian yang susah dibaca dan dipahami, hingga lemparan penghapus penuh debu kapur untuk mahasiswa bego.

Tak bisa dielak, butir-butir pemikiran Ong memang terserak dan tak tertata rapi. Jika menulis atau bicara, gagasan-gagasannya berdesakan keluar melalui celah kata yang amat sempit. Tanpa kadar pengetahuan yang mumpuni, orang akan kesulitan memahami pemikiran Ong yang brilian namun ruwet itu. Berbagai tulisan tersiarnya di Tempo, Prisma, Kompas dan media lain harus disunting lebih dulu oleh editor yang andal agar lebih mudah dicerna pembaca.

Lepas dari intelektualitasnya yang mengagumkan dan teruji, Ong di mata para sahabat adalah sosok yang hangat. Semua sahabat dekatnya sangat mengerti kegemaran Ong seputar dunia kuliner. Dalam sebulan, bisa 3-4 kali ia mengundang para koleganya berpesta di kediamannya.

Dia sangat suka makan enak. Baginya, menolak kenikmatan makanan sama artinya dengan menolak surga. Goenawan Mohamad dalam pidato sambutan ulang tahun Ong ke-70 memberi bocoran bahwa selain menggondol gelar doktor dari Yale, Ong juga membawa serta gelar gourmet (ahli mencicipi masakan) dan ahli masak sekaligus.

Ong punya selera makan tiada tanding. Lidahnya yang kosmopolit mampu menerima segala jenis masakan ala manapun. Kerongkongannya juga tak bisa betah berlama-lama tanpa alkohol. Masa bodoh dengan pantangan medis atau norma, sepanjang enak dan berselera, semuanya jadi halal.

Ong kerap kali mencemooh orang kaya namun berselera rendahan. Ia sendiri bukan orang yang secara finansial berada. Tapi, Ong tak pernah kehabisan cara untuk melampiaskan kegemarannya itu. Tak jarang ia tiba-tiba hadir dalam suatu pesta sekadar untuk mencicipi hidangan, sekalipun ia tak diundang.

Sepintas lalu, seolah tak ada hubungan serius antara kadar intelektualitas dan selera makan Ong yang begitu tinggi. Eit, tunggu dulu, menikmati makanan dalam dunia Ong adalah penelusuran peradaban. Setiap kebudayaan memiliki berbagai ekspresi sendiri untuk menampilkan dirinya. Masakan adalah salah satu cara paling ampuh.

Tradisi rijsttafel ala kolonial Belanda, contohnya, adalah jamuan makan besar-besaran, dengan beraneka hidangan nan mewah dan berlimpah. Bahasa table manner akan menunjukkan bahwa rijsttafel adalah semacam cara lain untuk menunjukkan kebesaran dan pengaruh yang kuat. Cara ini kemudian ditiru raja-raja di Jawa dalam jamuan-jamuan di keraton.

Goenawan Mohammad membikin parabel yang baik soal dunia kuliner Ong. Menurutnya, baik sejarawan atau juru masak, keduanya sama-sama mengolah bahan dari detail, dengan metode dan cara yang kurang lebih ajek dan menyuguhkan hasil akhir dengan sentuhan personal.

Demikianlah, Ong adalah seorang hedonis, sosok yang mempersetankan segala yang haram. Ong melahap makanan dalam kenikmatan puncak. Kenikmatan yang tak sekadar mengunyah, menelan, mencerna dan membuangnya ke lubang kloset, namun lebih pada penghayatan pada hidup yang hanya sekali dan harus dirayakan.

Ong menikmati hedonismenya dengan segenap kesadaran jiwanya sebagai petualang dan kemampuan nalarnya sebagai ilmuwan sejarah. Hal itu terbukti ketika Ong berhenti dari kebiasaan merokok. Bukan ancaman nikotin yang membuatnya takut, namun ia kesal dengan Tommy Soeharto yang sukses memonopoli pasar cengkih nasional.

Ya, buku ini sangat riuh dengan segala macam kenangan. Sebanyak 53 tulisan (daftar isi hanya menyebut 52, karena nama Goenawan Mohammad luput disebut) yang terkumpul dalam buku ini adalah semacam cara lain menyusun karangan bunga bagi Ong yang meninggal 30 Agustus 2007 lalu.

Kematian sering menyisakan kepedihan. Tapi, itu tidak berlaku bagi kematian Ong di mata sahabat-sahabatnya. Semasa hidupnya, Ong menyediakan dirinya dalam hubungan tanpa jarak pada siapa saja. Maka, di saat wafatnya, Ong justru makin memperdekat jarak itu. Onghokham yang tanpa spasi.

28 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Buku | | 1 Comment

Bakaukan Kawasan Pesisir

Bakaukan Kawasan Pesisir

Dipublikasikan Kompas, Jumat, 07 Desember 2007

Gencarnya kampanye peduli pemanasan global, termasuk di antaranya agenda pertemuan internasional di Nusa Dua, Bali, kian menabalkan sebuah kenyataan, manusia tengah menghadapi ancaman bahaya alam yang sedikit banyak merupakan ulah manusia sendiri.

Salah satu contoh konkret adalah permukaan air laut yang dari hari ke hari semakin mengurangi luas daratan. Ironisnya, kawasan hutan bakau sebagai benteng pertahanan daratan tidak segera dihijaukan kembali.

Rendahnya wawasan lingkungan hidup, eksploitasi alam yang berlebihan, dan orientasi bisnis jangka pendek adalah sepenggal kepongahan manusia modern dalam bergaul dengan alam. Padahal, leluhur kita telah mengajarkan pentingnya sikap hidup manunggal (menyatukan diri) dengan alam. Alam dipandang sebagai keseluruhan jagat dengan manusia merupakan bagian di dalamnya. Secara sadar mereka menanam berbagai varietas pohon demi kelangsungan hidup generasi sesudahnya dalam keseimbangan alamiah. Sayangnya, tingkat pengetahuan manusia modern acap kali tak berbanding lurus dengan sikap hidup manunggal itu.

Sebagai orang yang cukup lama tinggal di kawasan pesisir utara Jawa, saya merasakan betapa pantai kian tak nyaman dipandang. Dibukanya lahan tambak secara besar-besaran dengan mengorbankan kawasan hutan bakau tidak memperhitungkan keseimbangan ekosistem. Anehnya, masyarakat pesisir seperti merelakan batas garis laut mendekati permukiman. Mereka mencukupkan diri membangun tanggul tradisional dengan bambu dan karung pasir untuk menghadang laju ombak.

Masyarakat pesisir sejatinya adalah orang yang secara langsung berdialog dengan alam. Merekalah yang tiap hari merasai asin air laut, mengarungi ombak, dan memanfaatkan kekayaan hayati laut. Dengan demikian, wawasan lingkungan hidup idealnya disebarluaskan mulai dari level akar rumput.

Nah, sejauh ini, rangkaian solusi yang ditawarkan dalam menangani global warming lebih cenderung pada pembahasan emisi dan perdagangan karbon. Upaya ini jelas tidak menyentuh pada substansi masalah, yakni kesadaran “bersahabat” dengan alam yang mencakup begitu banyak hal. Selain itu, upaya tersebut lebih menggambarkan pola dari atas ke bawah. Padahal, kesadaran lingkungan akan meluas jika diimbangi gerakan dari bawah ke atas.

Dalam titik inilah, tingkat abrasi bisa ditanggulangi. Langkah- langkah strategis dan praktis sesegera mungkin perlu diimplementasikan. Pertama, menggalakkan konservasi hutan bakau di sepanjang pantai. Dewasa ini, beberapa instansi pemerintah telah mendistribusikan berbagai jenis bibit pohon keras secara gratis kepada masyarakat.

Kedua, penguatan partisipasi masyarakat pesisir sebagai subyek kebijakan. Artinya, mereka harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Bagaimanapun, masyarakatlah yang secara langsung berhadapan dengan alam.

Ketiga, menghidupkan kembali kearifan lokal leluhur berupa sikap manunggal dengan alam. Dalam perspektif ini, interaksi antara manusia dengan alam berada pada hubungan yang saling menjaga dan menguntungkan.

Menangani abrasi adalah sekelumit dari upaya raksasa menangani pemanasan global. Ia menjadi sangat bermakna karena langsung menyentuh substansi masalah. Inilah pengejawantahan dari idiom think globally-act locally. Urgensi konservasi hutan bakau tak hanya menjangkau wilayah pesisir, tetapi hal itu akan menjadi gelombang ombak kesadaran dalam menjaga keseimbangan alam secara menyeluruh.

28 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Lepas | | No Comments Yet

Membaca Jawa lewat Raffles

Membaca Jawa lewat Raffles

Diublikasikan sebelumnya di Koran Tempo, Ruang Baca

Pak Thomas Raffles (www.freemasonry.bcy.ca)

Pak Thomas Raffles (www.freemasonry.bcy.ca)


Ketika meninggalkan Indonesia (tepatnya di Bengkulu) pada 1823, sambil menyeka air mata, Raffles membawa pulang 30 ton naskah tentang Jawa.

Kira-kira tujuh tahun sebelumnya ia menerbitkan buku legendaris yang hingga kini terus diperbincangkan. Untuk keperluan penulisan, menurut Anthony Forge (1994), Sang Gubernur, yang juga memprakarsai kelahiran Singapura, tak hanya mengumpulkan banyak statistik, obyek-obyek material pun ia sertakan –mulai lukisan, ukiran kayu dan logam, baju adat, alat musik, hingga spesimen tumbuhan, rangka binatang dan sekaligus kulitnya. Ditambah sokongan data surat kabar The Java Gouvernment Gazette, lengkap sudah perbendaharaan Raffles untuk menulis mahakaryanya ini, History of Java –judul yang gagah lantaran mencakup dimensi-dimensi yang sangat beragam dan luas.

Sampul edisi Indonesia

Sampul edisi Indonesia

Pribadi Raffles memang memenuhi kualifikasi untuk menghasilkan karya besar. Jauh sebelum menjadi gubernur di Jawa, Raffles mengawali kariernya sebagai juru tulis sebuah perusahaan Hindia-Timur (1795). Sebagai seorang analis dan ahli dokumentasi, ia sangat tekun, ulet, cerdas, jeli, dan berkemauan keras. Tak heran, selama berkuasa di Jawa, berbekal akses yang luas, ia rajin menyambangi hutan, desa, hingga berbagai obyek arkiak Jawa. Ia juga gemar mengunjungi para penguasa lokal sembari berbuku naskah-naskah kuno.

Kualifikasi keilmuan Raffes terlihat pada kemampuan olah data yang mumpuni dan komprehensif. Terdapat banyak footnote buku-buku ilmiah tempat Raffles harus merujuk. Seperti dikutip majalah Tempo (edisi 9-25 Mei 2008), kepiawaian Raffles meracik data lokal dengan buku ilmiah para ilmuwan, seperti buku F. Valentijn (Oud en Nieuw Oost-Indien, 1724), dan karya Rumphius (Herbarium Amboinense, 1741) sangat mengagumkan. Lebih-lebih Raffles memperkaya ulasannya dengan aneka ilustrasi litografi yang unik dan menarik. Boleh jadi, beberapa obyek nyata dari ilustrasi itu sudah tak bisa dilihat lagi di tempat asalnya.

Selama menjadi Gubernur Jenderal di Jawa (1814-1816), ia berhasil mengusahakan banyak hal: mengenalkan otonomi terbatas, menghentikan perdagangan budak, menata ulang sistem perpajakan dan pertanahan, serta merintis penelitian serius terhadap sastra Jawa kuno. Ia pula yang menginisiasi pendirian Kebun Raya Bogor, Museum Etnografi di Batavia, memugar Candi Borobudur, Candi Panataran, dan Candi Prambanan. Dengan waktu yang relatif singkat itu, Raffles menjadi layak untuk dikenang. Lebih-lebih ia tak suka dengan model pemerintahan Belanda yang abai terhadap perikemanusiaan.

Raffles memulai Bab I dengan mendeskripsikan kondisi geografis Pulau Jawa. Ia menarasikan sebuah peta topografis ihwal keadaan alam Jawa dalam sejumlah ukuran: pembagian wilayah, pelabuhan, pegunungan, sungai dan danau, pemandangan alam, susunan bebatuan, musim dan iklim, jenis logam, kondisi tanah, serta flora-fauna. Salah satu subtema yang menarik dicermati adalah ketika Raffles mengulas bagaimana dan dari mana nama “Jawa” didapat. Penelusuran etimologis yang dilakukan Raffles bahkan, sampai-sampai, mengutip Kitab Kejadian Bab X.

Pada Bab II, Raffles mendiskusikan populasi Jawa dengan dua pola sekaligus. Mula-mula ia melakukan kilas balik sejarah asal mula orang Jawa, dan kemudian membandingkan perbedaan ras Jawa dengan ras Melayu dan ras Bugis. Tak hanya itu, pembahasan tentang sejumlah ras pendatang semacam Cina, Moor, dan Arab, ia sertakan pula. Dengan gambaran yang relatif lengkap seperti itu, Raffles bisa bercerita banyak mengenai kesenjangan ekonomi hingga problem kelas sosial.

Kecintaan Raffles pada dunia botani terlihat pada Bab III. Ia merasa takjub pada kesuburan alam Jawa yang tiada tandingnya di belahan bumi mana pun. “Apabila seluruh tanah yang ada dimanfaatkan,” demikian tulisnya, “bisa dipastikan tidak ada wilayah di dunia ini yang bisa menandingi kuantitas, kualitas, dan variasi tanaman yang dihasilkan pulau ini.”

Sampul edisi Bule

Sampul edisi Bule

Tengok pula bagaimana ia bersaksi, “Tidak ada pemandangan yang lebih indah untuk mata atau imajinasi seseorang dibandingkan melihat lautan padi menguning di lereng gunung dan buah-buahan di hutan yang siap dimakan.”

Raffles tak luput memperlihatkan bagaimana kodrat agrikultur orang Jawa terejawantah dalam keseharian. Poin ini lebih lanjut diuraikan pada Bab VI, yang secara penuh disediakan untuk menggambarkan karakter orang Jawa. Raffles bahkan merasa perlu menyangkal prasangka umum di Barat yang menganggap orang Jawa pemalas. Tidak. “Orang Jawa”, kata Raffles, “sangat rajin dan senang bekerja… bangun saat fajar, berangkat ke ladang padi pukul setengah tujuh…. Selama siang yang panas mereka beristirahat di bawah bayang-bayang rumah… merawat peralatan pertanian atau sibuk mengerjakan hal-hal yang lebih penting.

“Sekitar pukul empat mereka kembali bekerja di sawah…pukul enam mereka pulang, makan malam dan menghabiskan sisa waktu hingga menjelang tidur dengan sedikit hiburan atau bincang-bincang, sementara seluruh desa terlihat tenang, damai dan menyenangkan.”

Pembaca perlu mencermati bagian akhir bab itu yang mencerminkan subyektivitas seorang Gubernur Inggris di tanah Jawa.

Ditopang sejumlah data dan argumentasi, Raffles menilai kebijakan pemerintah Belanda tidak tepat. Baru setelah kedatangan Inggris, sejumlah perbaikan pertanian bisa diusahakan.

Pembahasan pada Bab IV berkutat pada dunia manufaktur dan produksi tradisional. Lagi-lagi Raffles menengarai kepatuhan orang Jawa terhadap Eropa (yang dimaksudnya tentu saja Belanda) menyebabkan miskinnya inovasi dan penemuan di bidang ini. Lebih-lebih, gaya hidup yang sederhana tidak menuntut kemajuan yang pesat di dunia manufaktur.

Pemahaman Raffles mengenai potensi strategis Jawa dalam perdagangan internasional juga sangat mencengangkan. Simak rincian ulasan pada Bab V, yang secara khusus menerangkan perdagangan. Sembari melaporkan rincian komoditas ekspor-impor, Raffles meletakkan relevansi pembahasannya dalam konteks hubungan niaga yang tersambung ke banyak belahan dunia lain.

Uniknya, Raffles memasukkan pembahasan agama dalam bab ini juga. Agaknya, ia ingin menunjukkan ketersebaran agama-agama, meminjam istilah Pramoedya, dari negeri “atas angin” tidak bisa dilepaskan dari konteks perdagangan. Uraian lebih mendalam mengenai sistem keyakinan orang Jawa bisa dibaca lebih lanjut pada Bab IX.

Baru pada Bab VII dan VII tema tradisi mendapatkan perhatian penuh.

Simbol-simbol tradisi semacam upacara, drama, wayang, tari, beserta sejumlah adat istiadat diterangkan dalam tutur yang tak membosankan. Sementara Bab X dan XI dihabiskan untuk mendedah sejarah perdaban Jawa yang panjang. Uraian historis ini diakhiri sampai dengan periode kedatangan militer Inggris pada 1811.

Termaktub pula 12 lampiran berharga yang melaporkan kemunduran Batavia, perdagangan dengan Jepang, terjemahan versi modern Suria Alem, hukum pengadilan provinsi di Jawa, perbandingan kosakata bahasa-bahasa suku di Jawa, cerita pulau Sulawesi dan perbandingan kosakata bahasa-bahasa suku angka-angka Candra Sengkala, terjemahan Manik Maya, terjemahan huruf prasasti Jawa dan Kawi kuno, pulau Bali, instruksi pajak, hingga memorandum tentang berat, ukuran, dan lain sebagainya.

Satu hal yang menjadi kesan bagi pembaca di Indonesia adalah gaya penulisan Raffles yang simpatik, sekalipun itu menjadi nostalgik bagi pembaca di Barat. Dengan begitu, Raffles selamat di dua sisi mata uang sekaligus. Ia mencintai Indonesia tanpa perlu menjadi benalu bagi semangat kolonialisme yang mewabah di negara-negara barat. Bagi sebagian orang, Raffles menjadi sebuah nama bagi pengandaian tentang kolonialisme yang indah.

Biar bagaimanapun, Raffles tetap saja tak bisa lepas dari cara pandang Orientalis yang senantiasa melihat “timur” sebagai nostalgia panorama yang elok dan, kata Edward Said (1978), remarkable experiences. Buktinya, “barat” langsung terhenyak begitu Eduard Douwes Dekker, yang menyamar dengan nama dengan Multatuli menjungkirbalikkan ‘pakem’ itu lewat novel Max Havelaar setengah abad kemudian (1860).

Sebelum History of Java edisi Bahasa Indonesia terbit, saya lebih dulu termenung dengan tesis master Natalie A. Mault (Louisiana State University, 2005). “Bagaimanapun,” demikian tulis Mault, “berbahaya untuk menempatkan History of Java sebagai sumber yang memberitakan segala hal ihwal sejarah Jawa, lantaran pandangan yang Raffles ekspresikan adalah milik kolonialis Eropa yang berburu cara untuk mempromosikan agenda politik mereka.” (hlm. 90). Pada titik inilah masyarakat Indonesia mesti sadar. Berabad-abad lamanya kita ditelan gelombang dari luar yang mewujud tak hanya dalam ketidakadilan ekonomi-politik semata, namun juga menyelinap dalam cara berpikir dan bersikap.

Maka, di hadapan karya ini, kita tak boleh berhenti pada keterpesonaan semata. Sekalipun untuk kisaran abad XIX tak ada sumber literer pembanding yang muncul dari kalangan bumiputera, sikap pasrah dalam membaca dan menulis sejarah tak bisa diterima. Karenanya, kesimpulan sebagai hasil sebuah pembacaan mestinya melahirkan kesadaran sikap. Cukuplah untuk berabad-abad lamanya kita dilahap menjadi obyek garapan “mereka”. Tak ada kata terlambat bagi “kita” untuk menjadi subyek bagi diri sendiri. Perspektif Indonesiasentris yang dirintis Sartono Kartodirdjo dalam tradisi historiografi bisa dirumuskan dalam tiga kata: Indonesia menulis Indonesia.

Barangkali, ini pula yang terkandung dalam slogan Bung Karno: BERDIKARI, berdiri di atas kaki sendiri.

“Oh, ya. Terima kasih, Pak Raffles. Selanjutnya kami sendiri yang menulis!”

Judul buku: The History of Java

Penulis: Thomas Stamford Raffles

Alih bahasa: Eko Prasetyaningrum, Nuryati Agustin, Idda Qoryati Mahbubah

Penerbit: Penerbit Narasi, Yogyakarta

Cetakan: I, 2008

Halaman: XXXVI + 904 halaman

27 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Buku | | No Comments Yet

Nusantara Fragmentaris

Nusantara Fragmentaris

Sudah dikhalayakkan sebelumnya oleh Koran Tempo 27 Oktober 2008


Dengan merenungi bentang wilayah dari Sabang hingga Merauke lewat peta, apa yang terlintas di benak kita? Jika membayangkan luas laut dan daratan dalam logika skala bidang datar saja kita sudah cukup tertegun, bagaimana pula jika perenungan tentang skala itu diandaikan dalam dimensi waktu? Kita dengan segera akan bergetar. Betapa wilayah seluas 10 juta kilometer persegi ini, dengan segala macam perbedaan khazanah hidupnya yang sangat rumit itu, bisa terangkai sedemikian rupa atas nama Indonesia.

Membuat peta Indonesia secara utuh dalam skala waktu yang panjang jelas lebih sulit daripada menyusun gambar topografis. Dan Bernard H. M. Vlekke, guru besar dari Universitas Leiden, memberanikan diri untuk membuatnya. Buku ini sangat ambisius lantaran merangkum tak kurang dari zaman prasejarah dan berhenti pada senjakala kekuasaan Belanda di Indonesia. Pertama-tama, para pembaca akan sangat terbantu menguasai isi buku ini dengan memeriksa tinjauan yang ditulis Taufik Abdullah (xxiv-xxxiii). Di situ Pak Taufik menyajikan ulasan yang sangat menarik perihal latar belakang keilmuan Vlekke, yang sangat mempengaruhi proses dan hasil penulisan karyanya ini. Vlekke adalah sarjana international relations, jadi ia bukan sejarawan murni. Buku ini sesungguhnya digarap demi memperkenalkan wilayah jajahan Belanda kepada khalayak Amerika Serikat. “Khalayaknya bukanlah orang Indonesia,” demikian Pak Taufik, “melainkan dunia Barat.”

Sejak awal Vlekke mengaku bahwa “buku ini dirancang sebagai sejarah Indonesia dan bukan perluasan perusahaan dan koloni Belanda di Luar negeri”. Namun, sekalipun landasan moralnya sudah berubah, Vlekke tetap saja tak bisa lepas dari perspektif kolonial –bukan perspektif komprehensif seperti yang Lutfi Assyaukanie tuliskan dalam Pengantar. Artinya, menurut Pak Taufik, dengan mengisahkan Indonesia, Vlekke sesungguhnya hendak mencari jawaban dari pertanyaan besar “Bagaimana proses Pax Neerlandica tercapai dan akhirnya bubar?” Pendekatan yang dipakai dalam buku ini adalah sejarah naratif. Tiga ciri utamanya: collligation, plot, dan struktur [Kuntowijoyo, 2008] terlihat pada upaya Vlekke dalam mencari “hubungan dalam” antar peristiwa sejarah, menatanya dalam alur kronik, dan kemudian melakukan rekonstruksi. Kelebihan Vlekke yang perlu diapresiasi dalam pendekatan ini adalah kemampuannya dalam olah-bahasa yang lincah dan rancak, sehingga nyaman untuk dibaca-tuntaskan. Dengan piawai, seolah menulis novel, ia bisa mengatur klimaks dan memberi kejutan-kejutan tak terduga pada pembaca.

Dimulai dengan menjelaskan kondisi geografis Indonesia, Vlekke menulis ulang hasil penemuan para arkeolog mengenai geneaologi orang Indonesia secara singkat. Saking singkatnya, ia mencukupkan diri dengan lebih banyak mengulas Jawadwipa, yang oleh Ptolemeus ditulis sebagai Iabadiu (Pulau Padi) dan Semenanjung Emas alias Semenanjung Malaya. Berdasar catatan Ptolemeus dan kisah Ramayana, Vlekke menyimpulkan bahwa sejak abad pertama Masehi sudah terjadi kontak dagang antara India dan Indonesia. Dari situ telaah kehadiran Hindhu-Budha dan segenap asumsi tentang pengaruhnya di Indonesia dibeberkan (Bab1, Fajar Sejarah Indonesiai). Kesan dari Bab 1 yang juga muncul di Bab 2 (Kerajaan-Kerajaan Jawa dan Sumatera) adalah kemampuan orang Indonesia untuk “menerima kultus baru tanpa menolak yang lama”. Pada titik ini, Vlekke berasumsi dinamika kekuasaan tradisional di Indonesia ditentukan oleh tiga entitas: kekuasaan lama, kekuasaan baru, dan kekuasaan penentang. Pasang surut dari satu kerajaan ke kerajaan berikutnya, betapapun beratnya konflik yang terjadi, pada dasarnya adalah bentuk lain dari kesinambungan trah atau pewarisan sah kekuasaan dari penguasa pendahulu. Sultan Agung, misalnya, mengklaim dirinya sebagai pewaris dari raja-raja Majapahit. Sama halnya dengan raja-raja dengan gelar Girindrawardhana yang menisbatkan diri sebagai penerus Syailendra. Terdapat bias pelaku sejarah yang dengan mudah terbaca pada dua bab tersebut. Hal yang sama juga ditemukan pada Bab 3 (Pendiri-pendiri Imperium di Jawa), Bab 15 (Berakhirnya Suatu Koloni, Lahirnya Suatu Bangsa), dan Bab 16 (Menuju Perang dan Revolusi). Pelaku utama dalam lima bab itu adalah Jawa. Cukup membingungkan bahwa Vlekke gemar sekali mengesankan Jawa sebagai Indonesia. Terlepas dari motif memudahkan penyebutan, hal ini tentu saja membuat klaim Vlekke tentang “Nusantara” tidak bisa diterima begitu saja.

Bab 4 (Muslim dan Portugis) menarasikan konfigurasi persebaran Islam pada abad ke-15, yang kemudian disusul kedatangan Portugis yang masih kental dengan semangat Perang Salib. Pada bab ini Vlekke merekonstruksi gambaran awal abad ke-16 dengan kombinasi antara teks-teks Portugis dan naskah-naskah Indonesia seperti Pararaton dan Negarakretagama. Dari bab ini, sekurang-kurangnya, kita mendapatkan penjelasan dini mengapa Islam lebih banyak dipeluk di Indonesia bagian Barat dan Kristen di bagian Timur. Menarik pula untuk disimak bahwa keruntuhan Majapahit, bagi Vlekke, bukan karena pengaruh Islam, melainkan konstelasi politik saat itu memang membawa Majapahit harus segera “tutup buku” dan sementara Islam semakin menemukan aksentuasinya sendiri.

Bab 5 hingga Bab 11 praktis mengisahkan Belanda sebagai aktor utama dalam sejarah Indonesia. Gambaran Nusantara pada bab-bab ini merupakan penjumlahan dari “klik” antara raja-raja Indonesia dan kekuatan asing, perang harga rempah, perang senjata, dan konstelasi politik di Eropa. Vlekke sangat bersemangat menerangkan segala sesuatunya dalam konteks perniagaan. Ia mengandaikan segala yang terjadi di darat pada mulanya bermula dari peristiwa-peristiwa di laut. Jadi, jangan bayangkan buku ini akan bercerita kisah-kisah rakyat agraris. Dalam kacamata Vlekke, mereka yang jauh dari lingkar kekuasaan, sama sekali tak dapat sorotan. Hanya saja, harus diakui bahwa Vlekke dengan baik mampu menuturkan bagaimana Portugis, Inggris, dan Spanyol perlahan mulai melemah peranannya di Nusantara, sehingga Belanda mampu merangsek cepat dalam wilayah yang luas. Sejalan dengan itu, dikisahkan pula bagaimana kekuasaan dan wibawa raja tradisional kian hari kian surut, terutama ketika Mataram mulai terbagi-bagi.

Ada satu cerita menarik tentang Jakarta. Pada awal abad ke-17 terjadi persaingan sengit antara pembeli-pembeli rempah dari Belanda, Inggris, dan Cina. Tersulut oleh peristiwa pembakaran pos dagang Inggris di Jayakarta, perang terbuka dimulai. Tujuh kapal yang dipimpin Coen berhasil dipukul mundur oleh sebelas kapal Inggris hingga akhirnya mundur ke Maluku dengan meninggalkan garnisun di benteng Jayakarta. Di luar perkiraan Coen, benteng itu selamat hanya karena antara Inggris, raja Jayakarta, dan raja Banten tak bisa mufakat siapa yang akan memilikinya setelah ditaklukkan. Dan ketika garnisun itu berpesta bahagia karena selamat, mereka mendapati benteng itu ternyata tak bernama. Lantas, dipasanglah nama Batavia. Demikianlah, asal-usul kota Jakarta memang jauh dari menyenangkan.

Tak berhenti di situ, Vlekke mengutip Dr. De Haan yang menyatakan bahwa setiap homo batavus, yakni orang Belanda asli yang bertipikal rajin, keras kepala dan bertemperamen tinggi menjadi homo bataviensis akibat pengaruh tropis. Jenis baru ini lebih malas dan lebih temperamental. Uniknya, homo bataviensis cenderung takut pada udara segar tropis, jarang mandi, dan jorok. Mereka ini umumnya segan pulang ke Belanda karena sudah menyandang kelas sosial yang tinggi di Batavia. Sesuatu yang tak mungkin didapat di negeri sendiri.

Nah, sembari bercerita tentang kekuasaan Inggris yang hanya sesaat di Bab 12, Vlekke menunjukkan apresiasinya terhadap Raffles dengan cara sinis. “Raffles bukanlah orang berkarakter hebat, tapi dia cukup bijaksana untuk memilih reputasi dalam sejarah daripada penghasilan material sesaat,” tulis Vlekke mengomentari karya monumental Raffles, History of Java. Bahasan untuk periode setelah kekuasaan Inggris yang singkat ditulis Vlekke dalam empat bab berikutnya. Bertolak dari titik kisar kembalinya kekuasaan Belanda, wacana kaum liberal yang melahirkan politik etis, berakhirnya koloni, kisah perang di laut Jawa yang menandai kemenangan Jepang dan kemudian sedikit cerita tentang revolusi yang dipimpin tokoh-tokoh nasional Indonesia modern. Untuk telaah lanjutan pada periode ini, pembaca bisa mendapatkan lebih banyak informasi dari buku sejarah lain yang sudah terbit sebelumnya.

Kata Luthfi Assyaukanie, Vlekke memilih judul Nusantara sebagai penghormatan terhadap Ki Hadjar Dewantara yang untuk pertama kalinya mempopulerkan istilah ini. Namun, secara pribadi, sulit bagi saya untuk menemukan keutuhan Nusantara dalam buku ini. Yang saya tangkap tak lain berkisar dari Jawa, Sulawesi, Sumatera, Bali, dan sedikit dari Kalimantan. Lantas di mana, misalnya, Papua atau Nusa Tenggara? Bahkan momen-momen penting seperti pembangunan jalan Daendels pun luput untuk diurai. Apalagi kisah tentang Tirtho Adhi Soerjo. Tidakkah nusantara ala Vlekke sangat fragmentaris? Namun anehnya, hanya dalam jangka waktu lima bulan, Nusantara edisi bahasa Indonesia ini sudah naik cetak tiga kali. Sekalipun begitu, saya tetap sepakat dengan Pak Taufik, “Bagi pemula, buku ini baik dan berguna, namun tak perlu direkomendasikan.”

27 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Buku | | No Comments Yet

Gugatan Amina atas Tafsir dan Fikih Maskulin

Sebelumnya telah diumumkan di islamlib.com pada 08/04/2005

http://islamlib.com/id/artikel/gugatan-amina-atas-tafsir-dan-fikih-maskulin/

Jumat, 18 Maret 2005. 100 orang laki-laki dan perempuan menyelenggarakan ritual agama yang revolusioner di sebuah gereja Anglikan, The Synod house of The Cathedral of St. John The Divine, di kota New York, Amerika serikat. Gereja itu menjadi saksi bisu prosesi ibadah yang dalam Islam dikenal sebagai salat Jumat. Yang bertindak selaku imam sekaligus khatib salat itu adalah seorang profesor ternama dari Virginia Commonweath University, Dr. Amina Wadud Muhsin. Amina dikenal sebagai muslimah feminis Afro-Amerika. Konon kata berita, motif utama pelaksanaan ibadah unik ini adalah upaya kesetaraan gender; tema lama yang sampai sekarang masih tetap hangat diperdebatkan.

Tentu fenomena ini memicu banyak respons dari pihak-pihak yang merasa gerah dan marah. Ulama sekaligus Grand Syekh al-Azhar di Mesir, Muhammad Sayyid al-Thanthawi mengajukan keberatan atas aksi Wadud, dan diikuti pula oleh ulama-ulama lain. Tapi bagi mereka yang sependapat dengan Amina, langkah serupa mungkin tak lama lagi akan diikuti.

Secara pribadi, saya pernah berbincang-bincang dengan Dr. Amina dalam sebuah workshop di Virginia, setahun yang lalu. Dari situ saya punya kesan pribadi. Dilihat dari fisik dan tutur kata, orang yang sempat bertatap muka dengannya akan yakin bahwa beliau merupakan salah satu prototipe muslimah dengan unsur feminitas yang sangat teruji. Kedalaman dan kegetolan beliau dalam menimba pengetahuan agama—khususnya menyangkut bidang tafsir—sudah tidak disangsikan lagi.

Sebagai feminis muslimah yang sejati, Amina dengan penuh kesadaran selalu mencoba mendobrak dominasi laki-laki dalam segala hal yang menyangkut Islam; agama yang konon membawa misi keadilan dan kesetaraan. Dobarakan itu pertama-tama ditujukan pada bidang tafsir dan fikih yang selama ini diyakini telah memberikan porsi begitu besar pada suara kaum laki-laki. Sementara untuk suara kaum perempuan, kalaupun ada, jelas tidak sebanding dan nyaris tak terdengar gaungnya.

Kuatnya kesan dominasi budaya patriarkhi yang melekat pada berbagai khazanah ilmu-ilmu keislaman (khususnya tafsir dan fikih) telah menginspirasikan Amina untuk berpendapat bahwa obyektivitas sebuah metode penafsiran tidak pernah bisa mencapai level yang absolut. Subyektivitas seorang mufassir (baca: laki-laki) selalu ada dan tak jarang lebih dominan di dalam muatan tafsir atau fikihnya.

Berbincang dengan Amina Wadud seusai seminar

Berbincang dengan Amina Wadud seusai seminar

Diakui atau tidak, fakta membuktikan bahwa kewenangan dalam menafsirkan teks-teks suci pada tataran praksis secara eksklusif dikuasai oleh kaum laki-laki. Maka wajar biala ada semacam absolutisme ijtihad di sini. Secara logis dan naluriah pula, kenyataan ini ikut menginfiltasi sejumlah teks yang sedianya diperuntukkan bagi feminitas wanita dengan susupan-susupan subyektif dari pandangan maskulin si mufassir. Pengalaman laki-laki kemudian dipaksakan untuk memahami kewanitaan. Inilah sedikit dari banyak hal yang ditentang Amina. Baginya, kehangatan dan kelezatan aroma semangkuk sup akan hilang seketika jika muncul tangan usil yang sengaja mencampurnya dengan air sabun berbusa.

Celakanya, metode penafsiran semacam ini sudah terlembagakan selama berabad-abad. Epistemologi yang pada awalnya hanya merupakan sebuah varian dalam memahami agama, karena begitu mengakarnya, kemudian hari malah menjadi (dijadikan) kebenaran yang mutlak, bahkan sering dianggap transenden dengan tingkat-tingkat sakralisasi yang luar biasa.

Pada titik-titik inilah, generasi muslim sekarang yang sebagian besar adalah muqallidîn atau pembebek saja, tidak punya kemampuan yang cukup untuk membedakan antara ‘penafsiran’ dengan ‘yang ditafsiri’ itu sendiri. Produk akal manusia hasil kerja metodologi dan epistemologi tertentu disejajarkan dengan teks-teks suci yang sering disebut kalam Ilahi. Adalah sebuah kemustahilan, sampai kapanpun, jika absolutisme ke-Tuhan-an ataupun segala hal yang memancar atau beremanasi dari-Nya disetarakan dengan makhluk dalam pelbagai derajat hirarkinya. Perilaku-perilaku semacam ini dapat saja dikategorikan sebagai kemusyrikan berpikir, atau yang bisa saya sebut sebagai syirik intelektual.

Semua produk pemikiran keislaman yang terbukukan dan dipatenkan hingga kini oleh sebagian orang pada kitab-kitab turats, tak lepas dari bias masculino-centris. Di era di mana kita hidup dalam era keterbukaan dan kesetaraan, upaya-upaya untuk meneruskan tradisi patriarkhi dalam berijtihad masih saja berlangsung. Perjuangan kaum minoritas yang menuntut hak-hak kaum hawa dalam beragama selalu dihadang atas nama Tuhan. Sistem penafsiran dan pemahaman teks-teks keagamaan yang kemudian dikodifikasikan sebagai sistem hukum dan way of life di kalangan umat Islam terasa begitu gentle. Inilah yang sering diistilahkan sebagai fikih dan tafsir maskulin atas agama. Artinya, sudah terjadi semacam operasi kelamin atas ayat-ayat suci.

Patriarkhi Sebagai Warisan Peradaban

Di sini kita akan menengok sejarah dominasi laki-laki dalam lingkup sosio-historis, dan kemiripan budaya berbagai peradaban. Dari sini bisa ditelusuri, sejauh mana peradaban Islam sebagai sebuah produk budaya, mewarisi hal yang sama. Sebagai manusia yang hidup pada abad dua puluh satu, semua orang di berbagai belahan dunia berhak malu. Sebab, nenek-moyang mereka (anchestor) ternyata tidak lebih baik dari pada binatang dalam soal pemuasan nafsu. Banyak praktik-praktik sejarah yang jelas-jelas tidak berpihak dan membela perempuan dalam soal ini. Status perempuan sebagai manusia yang lebih dari sebagai objek pemuasan nafsu seringkali dilucuti dan ditelanjangi.

Berbagai peradaban besar seperti Persia, Eropa, Asia Barat, Athena, Yunani, Romawi Kuno, hingga kerajaan-kerajaan Islam (ingat bahwa istilah hareem sangat identik dengan peradaban Islam) yang selama ini diklaim sebagai peradaban tertinggi, semuanya mengesahkan praktik-praktik poligini. Saya sengaja tidak memakai istilah poligami, sebab istilah poligini lebih mewakili ketertindasan perempuan dibanding poligami yang cakupannya lebih luas dan lebih umum. Di bidang-bidang kehidupan yang lain pun perempuan tidak punya peran yang berarti. Satu-satunya peran perempuan yang sering ditonjolkan secara berlebihan adalah fungsinya sebagai alat reproduksi sekaligus pemuas syahwat semata. Hanya Cleopatra atau Ratu Balqis saja yang bisa dijadikan pengecualian dalam konteks ini. Namun jelas, mereka berdua sama sekali tidak bisa menjadi representasi yang memuaskan tentang bagaimana sesungguhnya martabat dan posisi wanita pada zaman dahulu.

Dominasi laki-laki dalam segala hal yang kita dapati pada peradaban-peradaban tertinggi tersebut menjadi sesuatu yang tak terbantahkan lagi. Budaya ini kemudian menjadi semacam kemiripan yang bisa ditemukan di mana-mana. Kemiripan ini, sebagian besar timbul disebabkan karena adanya semangat untuk mewarisi dan mengimitasi berbagai aspek kebudayaan dari satu peradaban ke peradaban yang lain.

Contoh yang paling nyata adalah jatuhnya Konstantinopel dibawah ekspansi Dinasti ‘Utsmani. Saat itu, Sultan Muhammad II (Al-Fatih) begitu terpesona dengan gemerlap kebudayaan Byzantium. Keterpesonaan itu kemudian ditindaklanjuti dengan tetap menjaga dan melestarikan beberapa kebiasaan Kaisar Konstantin. Salah satunya melalui koleksi dayang atau selir dalam paviliun khusus. Dari sini pulalah, istilah hareem menjadi sangat populer.

Contoh kecil ini mampu menjadi refleksi sekaligus bukti bahwa sistem patriarkhi sebagai salah satu aspek budaya sama sekali tidak berakar pada konsep-konsep agama yang dogmatis. Kemiripan-kemiripan yang sudah saya singgung di atas, secara gamblang merupakan hasil dari apa yang sering dinamakan sebagai daya karsa, karya dan cipta manusia sebagai insan yang berpikir dan bertindak. Adalah sebuah kemustahilan jika hal ini dianggap merupakan ajaran Tuhan yang turun dari langit. Dalam hal ini, kita bisa memakai pemahaman terbalik. Logikanya, andai budaya patriarkhi adalah bagian dari transcendental teachings dan merupakan sebuah dogma dalam Islam, maka sejarah seharusnya mencatat lain. Wanita bisa jadi lebih menindas dan dominan ketimbang laki-laki sebelum Islam datang.

Nah, dalam fase yang lebih belakangan, konstruk budaya yang patriarkhi tersebut mempunyai cakupan yang semakin luas. Kejayaan Abassiyah dan Andalusia yang merupakan lahan subur perkembangan ijtihad-ijtihad di berbagai pemikiran keagamaan, tetap saja melanggengkan budaya tersebut. Tokoh-tokoh pemikir besar yang sampai sekarang banyak disebut dan dikutip jasa intelektualnya, jelas-jelas didominasi nama-nama kaum laki-laki. Suara minor (kaum hawa) nyaris tidak terdengar.

Gebrakan Amina Wadud

Dr. Amina Wadud Muhsin, dengan segenap keberaniannya mencoba menggugat dominasi itu. Menggugat bukan berarti mencoba membalikkan keadaan, melainkan hanya usaha mewujudkan kesetaraan dan memosisikan keberpihakan Islam dalam soal gender secara proporsional. “Saya hanya bermaksud membuat interpretasi Alqur’an yang di dalamnya terkandung pengalaman-pengalaman perempuan, tanpa stereotipe yang telah lama dibuatkan oleh kerangka interpretasi kaum laki-laki,” tulisanya dalam sebuah artikel.

Prinsip tersebut dijadikan starting point oleh Dr. Amina dalam melakukan berbagai kajian keagamaan dalam kapasitasnya sebagai seorang akademisi. Gebrakan dalam bentuk penyelenggaraan salat Jumat yang kontroversial itu, dalam konteks ini hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan upaya penggugatan itu.

Secara pribadi, saya sendiri nyaris yakin bahwa kisah Ummu Waraqah merupakan dasar pijakan oleh Dr. Amina dalam gebrakannya. Dalam kitab Bulûghul Marâm karya al-Hâfidz Ibnu Hajar al-Asqalanî diceritakan bahwa Nabi telah memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam salat bagi penghuni rumahnya. Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah menegaskan bahwa statusnya adalah sahih. Dalam bagian lain pada kitab yang sama juga disebutkan soal larangan perempuan menjadi imam salat. Hadis itu diriwayatkan Ibnu Majah dari Jabir. Hanya saja, status hadis kedua ini dinyatakan wâhin atau dla’îf.

Kasus salat Jumat Dr. Amina telah memunculkan guncangan besar dalam jagat keagamaan. Semua orang boleh menganggapnya berlebihan, tapi Amina tetaplah orang dengan pendirian yang kokoh. Ia ingin menunjukkan pada dunia dengan cara menyentaknya, bahwa suara perempuan pun seharusnya didengar dan diperhatikan. Dengan kontroversi dan derasnya respons yang muncul dari kasus tersebut, mungkin dia berharap diskusi-diskusi soal hak-hak kaum perempuan bisa dibahas secara luas dan mendalam oleh para pemikir dan pihak-pihak yang mau membuka mata dan hatinya. Ini bukanlah bid’ah belaka, melainkan sebuah upaya cerdas untuk mengembalikan kesucian agama dari jamahan tangan-tangan yang kurang bertanggung jawab dalam soal agama.

Untuk itu, keberanian Bu Amina semestinya kita apresiasi dengan baik. Sudah saatnya kita mengembalikan Islam sebagai agama pembebas, agama keadilan, dan agama yang menghormati manusia sebagai manusia. []

27 January 2009 Posted by usthof | Celoteh Lepas | | No Comments Yet