Buku Pelajaran yang Menyebalkan
Melongok ke perpustakaan yang jumlahnya tak begitu banyak di negeri ini, seseorang akan disuguhi kenyataan bahwa keheningan dan sepi tidak dimonopoli oleh pekuburan saja. Kontras jika dibandingkan dengan betapa semaraknya jasa rental game online atau Play Station yang tersebar hingga ke pelosok desa. Ini adalah tragedi.
Secara kasar fenomena tersebut bisa disimpulkan sebagai potret kebangkrutan nilai-nilai pengetahuan dan intelektualitas. Gairah menjelajah cakrawala pengetahuan dengan menguras isi perpustakaan menjadi barang langka. Mengapa gairah itu kian hari kian terkikis, atau paling tidak, dikalahkan budaya hura-hura (hedonisme)? Apakah generasi sekarang sudah sedemikian jauhnya dengan budaya beraksara? Apa yang menyebabkan buku tidak menjadi bagian penting dari kehidupan kita?
Dalam kongres ke-7 IPPI di Istora Senayan, Bung Karno bercerita panjang tentang masa belianya—masa dimana ia mulai menemukan cita-citanya. Sukarno belia sudah berkenalan dengan Marx, Engels, Mazzini, G Washington, Jefferson, Gladstone, Sidney Webb, Liebbnecht, hingga nama-nama seperti Mahatma Gandhi, Taigo Sakamori, Mustafa Kamil dan Sun Yat Sen. Perkenalan dengan mereka ini menanamkan kesadaran imajiner bahwa sebagai generasi muda, ia harus tahu cita-cita besar macam apa yang harus diperjuangkannya. Di mana Sukarno menemui mereka? Perpustakaan. Sukarno rakus membaca. Sukarno belia adalah tipe predator buku yang menguras habis isi perpustakaan. Tapi anehnya, Sukarno tak menyebutkan sekolah formal sebagai pemicu gairah membacanya itu. Sejauh apa relasi antara “sekolah formal” dan “gairah membaca”?
Sejak kecil generasi kita sebenarnya sudah diperkenalkan dengan buku. Sejak sekolah dasar atau bahkan TK, seorang anak sudah mulai diajari bagaimana membaca rangkaian huruf menjadi kata, kata menyusun kalimat, kalimat menjelma paragraf dan seterusnya. Sepintas memang tak ada masalah, tapi seorang anak jarang mendapatkan bimbingan kejiwaan bahwa membaca adalah proses menuju pencerahan, adalah bentang samudera tak bertepi, adalah kesadaran berperadaban.
Sedari dini hanya ditanamkan sikap yang kerdil, semakin cepat bisa mengeja, membaca lantas membunyikannya di mulut, semakin anak itu dianggap pintar. Di tingkat dasar dan lanjutan, generasi kita didorong untuk membeli buku-buku pelajaran baru, diktat-diktat baru atau Lembar Kerja Siswa (LKS) yang baru pula. Saat di SD dulu, saya giat menghapalkan diktum-diktum yang sering disusun secara numerik itu agar kala ulangan meraih nilai delapan atau sembilan. Saya bahkan beranggapan semakin cerdas seseorang, maka semakin banyaklah yang bisa ia hapal. Dan saya berambisi menjadi anak cerdas dalam definisi seperti itu. Menghapal, menghapal dan menghapal. Akhirnya, mulailah saya kedodoran. Anehnya, kala itu seperti ada suara di alam bawah sadar bahwa yang dianggap buku hanyalah diktat-diktat di sekolahan itu. Tiap kali usai membaca novel, komik, majalah, atau tabloid anak-anak, saya seakan-akan merasa tidak sedang membaca meski mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Kalaupun itu disebut membaca, maka hukumnya sunnah dan tidak wajib, sehingga ada “bacaan kelas satu” dan “bacaan kelas dua”. Jarang sekali, atau bahkan tidak pernah, di sekolah para murid dirangsang untuk membaca apa saja. Aksiomanya, belajarlah biar pintar. Dan yang dimaksud dengan belajar tentu saja adalah menghapal materi yang sudah ditentukan guru. Lama-kelamaan saya bosan dan jengah. Betapa sekolah hanya menghargai mereka yang cepat dalam hapalan dan kuat dalam ingatan. Kreativitas bernalar dipinggirkan. Buku-buku mainstream di sekolah menjadi kanonik alias serupa kitab yang (di)suci(kan). Begitulah, “pola pembacaan buku” di sekolah-sekolah kita mulai tingkat dasar hingga tingkat lanjutan. Buku pelajaran selalu jadi sumber yang harus dihapal baris per barisnya.
Menghapal jelas bukan tantangan karena itu hanya sebentuk upaya untuk merekam atau semacam copy-paste yang menguras energi tapi tak menghargai kerja akal. Sekolah kemudian menjadi serupa pabrik instalasi robot-robot penghapal. Aspek kognitif yang terlalu dikedepankan akhirnya menggiring budaya membaca ke belakang. Paradoks dan ironis. Jika kemudian bangsa kita tak punya kultur membaca yang kuat, sama artinya—atau kita layak curiga—sekolah-sekolah di negeri ini tak cukup mampu membangun kultur itu dan, jangan-jangan, malah merubuhkannya sebelum berdiri. Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, buku pelajaran dari dulu hingga sekarang, meski kurikulum terus berganti episode, jarang menyentuh aspek kesadaran. Siswa tak cukup sadar bahwa membaca adalah kebutuhan. Kedua, banyak buku pelajaran dikemas dalam format yang asal jadi, gaya bahasa seadanya dan materi yang tidak memadai. Ketiga, metode yang dipakai untuk membaca buku pelajaran adalah menghafal, bukan memahami. Sehingga wajar jika, buku-buku lain di luar pelajaran dipinggirkan. Selain itu, sering sekali terjadi Guru justru bertindak sebagai agen buku, dengan sejumlah kompensasi dari penerbit jika ia bisa menjual dalam eksemplar tertentu.
Kita patut iri dengan negara dengan kultur membaca yang sangat mengakar seperti Amerika. Di tempat-tempat publik semisal bandara, stasiun, rumah sakit atau di kendaraan umum sekalipun, banyak orang merasa penting untuk membaca. Menjadi masuk akal, jika di sana masyarakat sangat menghargai perpustakaan. Dan ketika fenomena ini ditelisik, didapati kenyataan bahwa sekolah termasuk mata rantai paling penting untuk menumbuhkan kesadaran itu. Dalam budaya literasi barat, hampir-hampir mustahil jika seorang siswa bersekolah tanpa bisa mengapresiasi kegiatan membaca sebagai sesuatu yang penting. Sekolah mendorong para siswa untuk memahami bahwa membaca adalah aktivitas yang penuh nilai, memperluas pengetahuan dan memampukan mereka untuk menjadi orang berguna serta produktif bagi masyarakat. Sekolah memacu mereka untuk menjadi pembaca yang melek dan mampu menjelajah berbagai jenis bacaan untuk tujuan yang beragam (Encarta Encyclopedia 2003) Di negara maju, buku pelajaran menunjang siswa untuk menyuburkan kegemaran membaca apa saja sesuai dengan minat dan disiplin ilmu masing-masing. Ini adalah sebentuk kesadaran manusia berperadaban. Sayang sekali, di negeri ini, buku pelajaran jstru punya kontribusi penting dalam pengebirian kultur membaca.
Dengan demikian, setidaknya kita mulai mengembangkan kesadaran baru bahwa buku pelajaran hanya sebagian kecil saja dari sekian luas semesta pustaka yang ada. Sangat perlu kiranya, kurikulum pendidikan diorientasikan pada kebudayaan membaca dalam pengertian yang luas. Pada gilirannya, sekolah bisa merangsang siswa untuk melek dan sadar, sehingga kebutuhan membaca sama harganya dengan keniscayaan bernafas. Dengan begitu, generasi kita akan mampu membentuk cita-cita yang tinggi, menjadi manusia berpengetahuan, menjadi bangsa berperadaban. Namun entah jika sebagian dari kita justru merasa nyaman menjadi manusia purba.
Onghokham tanpa Spasi

Sampul
Onghokham Tanpa Spasi
Ia punya sederet predikat: sejarawan, kolomnis, intelektual, koki, penggila pesta, penggemar barang antik, hingga eksentrik.
Dari sedikit sejarawan berkualitas yang dimiliki bangsa ini, Onghokham adalah salah satunya. Sejak muda, ia dianggap salah satu pintu gerbang bagi sarjana-sarjana asing yang ingin mengenal sejarah Indonesia dari dekat. Ketika kemudian gelar doktor dari Universitas Yale diraihnya, kredibilitas Ong sebagai sejarawan kian kukuh. Hanya saja, seberapa pun dalam wawasan historisnya, teman-teman terdekat Ong akan segera menolak definisi Onghokham sebagai ahli sejarah semata-mata.
Ya, meski Onghokham sendiri berseru “Saya seorang sejarawan” ketika memulai buku Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong, predikat apa pun tak bisa mewakili Ong yang utuh, karena Ong tak dibatasi kapling kategoris. Ia memang punya sederet predikat: sejarawan, kolomnis, intelektual, koki, penggila pesta, penggemar barang antik, hingga eksentrik. Tak ada satu istilah paling absolut untuk merujuk pengertian tentang siapa Onghokham seutuhnya. Onghokham adalah Onghokham. Titik.
Begitulah yang terungkap dalam buku testimonial ini, Onze Ong, Onghokham dalam Kenangan. Diniati untuk mengenang 100 hari kepergiannya ke alam baka, buku ini adalah album tempat berbagai kolase kenangan ditempelkan. Sahabat-sahabat Ong menuliskan kesan-kesan pribadi secara beramai-ramai. Ada Ben Anderson yang tak bisa lupa tahun-tahun awalnya di Indonesia bersama Ong muda, Barbara Hartley saat belajar bersama di Yale, Anthony Reid yang dibukakan matanya perihal lanskap budaya petani Jawa, David Reeve yang terkesan dengan kompleksitas budaya Jawa dalam pemikiran Ong, Mary Heidhues yang terkenang dengan Ong era 1960-an, hingga Sidney Jones yang terpesona dengan keramahan ala Ong.
Belum lagi tulisan-tulisan koleganya dari dalam negeri, dari Adrian Lapian, Asvi Warman Adam, Christianto Wibisono, Dede Utomo, Goenawan Mohamad hingga Taufik Abdullah. Semuanya mendedah kembali memori masa lalu yang begitu personal dan intim.
Ong yang mereka kenal melampaui diskusi-diskusi akademik atau berbagai karya tulis ilmiah. Jarang dari mereka yang mengulas karier dan pemikiran intelektual Ong dengan rumit. Wajar memang, kala seseorang yang dicintai pergi jauh, sahabat-sahabatnya ingin mendekat kembali. Ong begitu dekat, hingga tiap kata yang ditulis dalam buku ini seolah tak muat menggambarkan keintiman itu.
Begitu dekatnya, buku ini mengantarkan pembaca untuk mengenal sisi hidup Ong dalam dimensi yang hampir tanpa jarak. Tak ada yang tabu membahas kehidupan Onghokham. Nilai-nilai kepatutan yang jamak berlaku di masyarakat tak berlaku untuk Ong. Para kontributor tak segan membicarakan kisah-kisah yang aneh, sinting, nekat, menggelikan, hingga yang menggugah, inspiratif atau mencerahkan. Bagaimana pun, Ong yang utuh adalah penjumlahan dari seluruh apa yang ia pikirkan dan lakukan.
Dosen Universitas Indonesia Kasijanto Sastrodinomo, misalnya, dalam tulisan “Sisi ‘Error’ Pak Ong”, menggambarkan Ong sebagai sosok yang nyeleneh. Tak mau kawin, tak berhasrat dengan gelar gelar guru besar (sebab malas berhadapan dengan birokrasi), menenteng ikan segar ke dalam kelas kuliah atau sering tidak meluluskan mahasiswa adalah sebagian keanehan yang oleh Kasijanto dianggap sisi error. Ong tak segan melabrak kepantasan umum demi sesuatu yang diyakininya benar. Di sinilah, menurut Kasijanto, Ong menjadi sosok pembelajar yang otentik, yang tak melulu tunduk pada paksaan nilai.
Para mahasiswa yang pernah diajar Ong tentu tahu betul betapa eksentriknya gaya mengajar dosen yang satu ini. Ia paling tidak teratur menyusun silabus, materi kuliahnya melompat-lompat, soal ujian yang susah dibaca dan dipahami, hingga lemparan penghapus penuh debu kapur untuk mahasiswa bego.
Tak bisa dielak, butir-butir pemikiran Ong memang terserak dan tak tertata rapi. Jika menulis atau bicara, gagasan-gagasannya berdesakan keluar melalui celah kata yang amat sempit. Tanpa kadar pengetahuan yang mumpuni, orang akan kesulitan memahami pemikiran Ong yang brilian namun ruwet itu. Berbagai tulisan tersiarnya di Tempo, Prisma, Kompas dan media lain harus disunting lebih dulu oleh editor yang andal agar lebih mudah dicerna pembaca.
Lepas dari intelektualitasnya yang mengagumkan dan teruji, Ong di mata para sahabat adalah sosok yang hangat. Semua sahabat dekatnya sangat mengerti kegemaran Ong seputar dunia kuliner. Dalam sebulan, bisa 3-4 kali ia mengundang para koleganya berpesta di kediamannya.
Dia sangat suka makan enak. Baginya, menolak kenikmatan makanan sama artinya dengan menolak surga. Goenawan Mohamad dalam pidato sambutan ulang tahun Ong ke-70 memberi bocoran bahwa selain menggondol gelar doktor dari Yale, Ong juga membawa serta gelar gourmet (ahli mencicipi masakan) dan ahli masak sekaligus.
Ong punya selera makan tiada tanding. Lidahnya yang kosmopolit mampu menerima segala jenis masakan ala manapun. Kerongkongannya juga tak bisa betah berlama-lama tanpa alkohol. Masa bodoh dengan pantangan medis atau norma, sepanjang enak dan berselera, semuanya jadi halal.
Ong kerap kali mencemooh orang kaya namun berselera rendahan. Ia sendiri bukan orang yang secara finansial berada. Tapi, Ong tak pernah kehabisan cara untuk melampiaskan kegemarannya itu. Tak jarang ia tiba-tiba hadir dalam suatu pesta sekadar untuk mencicipi hidangan, sekalipun ia tak diundang.
Sepintas lalu, seolah tak ada hubungan serius antara kadar intelektualitas dan selera makan Ong yang begitu tinggi. Eit, tunggu dulu, menikmati makanan dalam dunia Ong adalah penelusuran peradaban. Setiap kebudayaan memiliki berbagai ekspresi sendiri untuk menampilkan dirinya. Masakan adalah salah satu cara paling ampuh.
Tradisi rijsttafel ala kolonial Belanda, contohnya, adalah jamuan makan besar-besaran, dengan beraneka hidangan nan mewah dan berlimpah. Bahasa table manner akan menunjukkan bahwa rijsttafel adalah semacam cara lain untuk menunjukkan kebesaran dan pengaruh yang kuat. Cara ini kemudian ditiru raja-raja di Jawa dalam jamuan-jamuan di keraton.
Goenawan Mohammad membikin parabel yang baik soal dunia kuliner Ong. Menurutnya, baik sejarawan atau juru masak, keduanya sama-sama mengolah bahan dari detail, dengan metode dan cara yang kurang lebih ajek dan menyuguhkan hasil akhir dengan sentuhan personal.
Demikianlah, Ong adalah seorang hedonis, sosok yang mempersetankan segala yang haram. Ong melahap makanan dalam kenikmatan puncak. Kenikmatan yang tak sekadar mengunyah, menelan, mencerna dan membuangnya ke lubang kloset, namun lebih pada penghayatan pada hidup yang hanya sekali dan harus dirayakan.
Ong menikmati hedonismenya dengan segenap kesadaran jiwanya sebagai petualang dan kemampuan nalarnya sebagai ilmuwan sejarah. Hal itu terbukti ketika Ong berhenti dari kebiasaan merokok. Bukan ancaman nikotin yang membuatnya takut, namun ia kesal dengan Tommy Soeharto yang sukses memonopoli pasar cengkih nasional.
Ya, buku ini sangat riuh dengan segala macam kenangan. Sebanyak 53 tulisan (daftar isi hanya menyebut 52, karena nama Goenawan Mohammad luput disebut) yang terkumpul dalam buku ini adalah semacam cara lain menyusun karangan bunga bagi Ong yang meninggal 30 Agustus 2007 lalu.
Kematian sering menyisakan kepedihan. Tapi, itu tidak berlaku bagi kematian Ong di mata sahabat-sahabatnya. Semasa hidupnya, Ong menyediakan dirinya dalam hubungan tanpa jarak pada siapa saja. Maka, di saat wafatnya, Ong justru makin memperdekat jarak itu. Onghokham yang tanpa spasi.
Bakaukan Kawasan Pesisir
Bakaukan Kawasan Pesisir
Dipublikasikan Kompas, Jumat, 07 Desember 2007
Gencarnya kampanye peduli pemanasan global, termasuk di antaranya agenda pertemuan internasional di Nusa Dua, Bali, kian menabalkan sebuah kenyataan, manusia tengah menghadapi ancaman bahaya alam yang sedikit banyak merupakan ulah manusia sendiri.
Salah satu contoh konkret adalah permukaan air laut yang dari hari ke hari semakin mengurangi luas daratan. Ironisnya, kawasan hutan bakau sebagai benteng pertahanan daratan tidak segera dihijaukan kembali.
Rendahnya wawasan lingkungan hidup, eksploitasi alam yang berlebihan, dan orientasi bisnis jangka pendek adalah sepenggal kepongahan manusia modern dalam bergaul dengan alam. Padahal, leluhur kita telah mengajarkan pentingnya sikap hidup manunggal (menyatukan diri) dengan alam. Alam dipandang sebagai keseluruhan jagat dengan manusia merupakan bagian di dalamnya. Secara sadar mereka menanam berbagai varietas pohon demi kelangsungan hidup generasi sesudahnya dalam keseimbangan alamiah. Sayangnya, tingkat pengetahuan manusia modern acap kali tak berbanding lurus dengan sikap hidup manunggal itu.
Sebagai orang yang cukup lama tinggal di kawasan pesisir utara Jawa, saya merasakan betapa pantai kian tak nyaman dipandang. Dibukanya lahan tambak secara besar-besaran dengan mengorbankan kawasan hutan bakau tidak memperhitungkan keseimbangan ekosistem. Anehnya, masyarakat pesisir seperti merelakan batas garis laut mendekati permukiman. Mereka mencukupkan diri membangun tanggul tradisional dengan bambu dan karung pasir untuk menghadang laju ombak.
Masyarakat pesisir sejatinya adalah orang yang secara langsung berdialog dengan alam. Merekalah yang tiap hari merasai asin air laut, mengarungi ombak, dan memanfaatkan kekayaan hayati laut. Dengan demikian, wawasan lingkungan hidup idealnya disebarluaskan mulai dari level akar rumput.
Nah, sejauh ini, rangkaian solusi yang ditawarkan dalam menangani global warming lebih cenderung pada pembahasan emisi dan perdagangan karbon. Upaya ini jelas tidak menyentuh pada substansi masalah, yakni kesadaran “bersahabat” dengan alam yang mencakup begitu banyak hal. Selain itu, upaya tersebut lebih menggambarkan pola dari atas ke bawah. Padahal, kesadaran lingkungan akan meluas jika diimbangi gerakan dari bawah ke atas.
Dalam titik inilah, tingkat abrasi bisa ditanggulangi. Langkah- langkah strategis dan praktis sesegera mungkin perlu diimplementasikan. Pertama, menggalakkan konservasi hutan bakau di sepanjang pantai. Dewasa ini, beberapa instansi pemerintah telah mendistribusikan berbagai jenis bibit pohon keras secara gratis kepada masyarakat.
Kedua, penguatan partisipasi masyarakat pesisir sebagai subyek kebijakan. Artinya, mereka harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Bagaimanapun, masyarakatlah yang secara langsung berhadapan dengan alam.
Ketiga, menghidupkan kembali kearifan lokal leluhur berupa sikap manunggal dengan alam. Dalam perspektif ini, interaksi antara manusia dengan alam berada pada hubungan yang saling menjaga dan menguntungkan.
Menangani abrasi adalah sekelumit dari upaya raksasa menangani pemanasan global. Ia menjadi sangat bermakna karena langsung menyentuh substansi masalah. Inilah pengejawantahan dari idiom think globally-act locally. Urgensi konservasi hutan bakau tak hanya menjangkau wilayah pesisir, tetapi hal itu akan menjadi gelombang ombak kesadaran dalam menjaga keseimbangan alam secara menyeluruh.
-
Archives
- February 2009 (1)
- January 2009 (10)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS