Alkalamu huwa allafdzu almurakkabu almufiidu bil wadl’i…
Blog ini sengaja dijuduli “alkalamu” lantaran penggalan kalimat itu yang pasti diingat oleh mereka yang mula-mula belajar gramatika Arab lewat kitab Al Ajrumiyyah. Sulit untuk membahasa-indonesiakan penggalan itu karena bagi saya ia adalah sebuah awal-mula yang sangat membekas. Penggalan kalimat itu saya jumpai saat berusia 8 tahun. Simbah kakung sendiri yang mengenalkannya. Bukan karena langsung menangkap maknanya, namun karena sampai empat kali mengkhatamkan kitab itu, saya masih sedemikian bebal. Benar-benar saya tak tahu, untuk apa mempelajarinya, selain karena terpaksa. Alkalamu mulanya misteri atau rembang senja dan selalu begitu sampai sekarang.
Dan dengan terkaget-kaget, seseorang pernah membisiki saya sebuah petikan dari Bibel, “en arkhe en logos”. Pada mulanya adalah firman (cat: padahal logos tak selalu bermakna firman). Alkalamu, sesudah itu, sekonyong-konyong datang menjerat, seraya menyingkapkan sedikit demi sedikit pesonanya. almurakkabu…bertumpuk-tumpuk, tindih menindih, berjalin-kelindan… almufiidu…menghadirkan aura, dunia hadir, jantung berdegup, nalar meliar, merayah makna…bil wadl’i, intensi, mengarah, menubuh, menyelimuti…